MERBABU

Sedikit flashback. 2 (dua) tahun lalu, gue hanya pekerja kantoran yang stuck dengan rutinitas harian yang begitu-begitu saja yang ngga berani keluar dari zona nyamannya. Tapi siapa sangka sekarang gue ketagihan akan ketinggian, rindu berada beribu-ribu meter diatas permukaan laut. Ini adalah dream comes true yang kesekian kalinya dan bisa mendaki perdana salah satu Gunung terindah di Jawa Tengah. Inilah puncak gunung kedua diatas 3000 meter yang gue daki. Gunung Merbabu 3142 mdpl.

Tak ada satupun yang sebelumnya pernah mendaki Merbabu dari kami ber-enam; Andro, Finda, Guntur, Inesh, Rizal, termasuk gue sendiri. Gue hanya memberi penawaran, mereka sendiri yang akhirnya memilih ikut bergabung. Lets get lost!

Sebulan sebelum tanggal keberangkatan, gue mampir dari satu blog ke blog yang lain sekedar untuk mencari informasi tentang Gunung Merbabu. Trek mana yang akan gue pilih nanti? Belum lagi pertimbangan dengan membawa 2 orang teman gadis perawan yang punya kebiasaan “aneh” karena tidak pernah bilang ke orang tuanya kalo mereka akan naik gunung.

Sourcing dari satu blog ke blog lain memang memberikan banyak referensi tapi tidak untuk Merbabu, ini membingungkan. Semua review tidak memberikan gambaran yang objektif.

Keputusan pun diambil dan gue mengabari teman-teman melalui group di LINE, bahwa jalur naik akan melalui via Kopeng Chuntel dan turun via Selo.

Jumat. 29 Mei 2015.

Kami ber-enam berkumpul di Stasiun Kiaracondong dan segera bertolak menuju Lempuyangan- Yogyakarta (YK). Selama di YK rencananya kami akan singgah di rumah sahabat, Yusran namanya, remaja tanggung yang masih belum move on dari mantannya yang kini satu kantor.

Sabtu. 30 Mei 2015.

Ada pemandangan lucu yang terjadi pagi itu ketika kami dijamu oleh Yusran dan keluarganya yang ramah. Beberapa teman tak henti-hentinya meledek Yusran dan Rizal di ruang makan. Peran utamanya adalah seorang gadis bernama Binar yang notabene adalah mantan dari Yusran dan saat ini sedang didekati oleh Rizal dan bahkan gosipnya sudah berpacaran. Hahaha..

Tepat jam 6.30 kami berpamitan pada Yusran dan keluarganya yang telah menyuguhi kami dengan sarapan Gudeg dan teh hangat. Sungguh, kekeluargaan yang tak akan tergantikan. Ini adalah kali kedua gue berkunjung ke rumah Yusran.

Tujuan pertama kami pagi itu adalah terminal Jombor dengan menggunakan Bis TransJogja. Kemudian dilanjutkan ke Magelang menggunakan Bis antar Kota. Sampai di Magelang perjalanan disambung menggunakan mini bus lokal menuju/jurusan Wekas-Kopeng.

Tiba di Magelang kami ber-enam bertemu 2 pendaki dari Depok dan 1 Pendaki dari Surabaya. Didalam bis kami saling bertukar informasi, kemudian seolah chemistry kami telah terbentuk kami memutuskan untuk join bareng untuk Trekking bersama via jalur Wekas.

Butuh waktu ± 3 jam dari YK hingga sampai di Wekas. Sampai di Wekas kami memilih kendaraan mobil bak terbuka yang biasa mengangkut sayur dari perkebunan warga untuk mengantar kami sampai ke basecamp. Setelah mendaftarkan anggota kami beristirahat sejenak di homestay yang tersedia.

Selesai sholat dzuhur berjamaah kami memulai trekking. Tak ingin malu seperti pada saat pendakian di Gunung Gede, sebulan lebih gue mempersiapkan fisik gila-gilaan untuk pendakian ke Merbabu. Bahkan seminggu menjelang hari H gue sempat jogging hingga 8 km.

Tak ada lagi cerita lutut kopong walaupun napas terengah-engah dan gue berada di barisan terdepan bersama Guntur, sedangkan Andro dan Rizal mengawal Inesh dan Finda dibelakang. 3 (tiga) orang teman yang sejak bertemu di terminal Magelang tak terlihat dibelakang kami.

Nampaknya rombongan kami sedang on fire sampai-sampai kami bertemu pendaki yang lebih dulu berangkat beberapa jam lebih awal dari kami.

Mendekati pos 2 kami bertemu teman pendaki dari Bekasi. Banyak percakapan yang membuat kami melupakan lelahnya trekking siang itu. Mereka berhenti lalu kami menyusul. Begitupun sebaliknya ketika kami berhenti untuk jeda istirahat, mereka kembali menyusul kami. “Susul kita aja bang, nanti juga di susul lagi di depan”. Ucap kami melepas canda satu sama lain.

Di pos 2 kami disambut dengan pemandangan bukit yang dilereng-lerengnya ditumbuhi Edelweiss yang sesekali tertutup awan putih.

IMG_1516-0

Cuaca sore itu sungguh cerah sampai-sampai gue enggan beranjak dari tempat gue duduk. Tak sabar ingin menikmati sunset gue dan teman-teman memutuskan untuk melanjutkan trekking ke (Pemancar) dan mendirikan tenda disana.

Dari pos 2 kami mengisi jligen air dengan kapasitas 10 liter. Disini gue mulai mempertimbangkan kemampuan diri sendiri. Konyol ngga nih kalo kehabisan tenaga, terus hilang keseimbangan, dan terperosok ke jurang. Gue tersenyum miris mengingatnya. Akhirnya air jligen gue kurangi jadi 5 liter. Persediaan air yang gue bawa saat itu total 8 liter didalam carrier.

Kami memulai pendakian sekitar jam 4, sebelum kami trekking kami mendapat suguhan susu murni dari teman asal Bekasi yang sejak dijalan trekking bersama. “Bang, gue nanti titip lapak diatas ya buat diriin tenda”. Ucapnya pada kami.

Tak mau kehilangan momentum gue terpaksa meninggalkan teman-teman menuju pemancar dengan trekking seorang diri. Hanya suara angin dan burung penghuni Merbabu yang gue dengar sore itu. On my trekking I’m thinking something very deeply. “What am I doing here?” “What is the purpose of life in this world?”.

Gue menyandarkan diri yang sudah sempoyongan pada pohon Cantigi. Mengatur nafas yang terus terengah-engah. Sinar matahari menampar wajah gue yang menembus dari balik pohon Cantigi.

IMG_1530

Kemudian.

Entah kenapa gue tiba-tiba membuat make a wish. Remember, it’s not what you do that matters. It’s the intention. Karena gue percaya dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh Bung Karno; “Ada saatnya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata”. (:

Diatas (pemancar) gue menyaksikan sunset yang belum pernah gue liat sebelumnya. Sangat indah. Excitednya melebihi ketika melihat negeri diatas awan. Ini ibarat liat sunset dari atas negeri diatas awan. (:

IMG_1576

IMG_1761

Angin sungguh tak bersahabat sore menjelang malam. Kami memutuskan mendirikan tenda dibalik pepohonan Cantigi. Semua tim dilanda kedinginan dan merasakan menggigil yang cukup hebat. Angin yang berhembus dari bawah bukit terus menerpa tenda yang kami dirikan. Beberapa kali flysheet tenda Andro terlepas saking kencangnya hembusan angin.

Tak lama setelah kami berhasil mendirikan tenda, teman kami dari Bekasi kemudian tiba untuk bergabung. Obrolan dengan logat Bekasi jadi sajian yang sederhana malam itu dan berhasil membuat kami tak henti-hentinya tertawa mendengarkan percakapan mereka dari dalam tenda. BUJUG.

Walaupun malam di Merbabu begitu dingin gue memberanikan untuk keluar tenda. Ternyata mewah itu sederhana tak perlu Hotel berbintang lima, cukup dengan tenda berukuran dua kali dua sembari menikmati indahnya langit malam berbintang sebagai atapnya. Milkyway, salah satu alasan kenapa gue ingin kembali lagi berkemah di Gunung. Sederhana.

Minggu. 31 Mei 2015.

Jam 4 pagi teman kami dari Bekasi siap melakukan summit attack ke puncak Syarif dan Kenteng Songo Gunung Merbabu. Namun tim kami baru akan melakukan summit attack jam 5 pagi dan kami hanya akan menikmati sunrise dari Pos Pemancar.

Processed with VSCOcam with a5 preset

Lagi-lagi Finda mengulang kebiasaannya, tidak ikut menikmati sunrise dan lebih memilih berdiam didalam tenda.

Beberapa ratus meter mendekati Pemancar kami terlebih dulu menyempatkan waktu untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Ini merupakan obsesi pribadi gue sejak lama. Sampai-sampai ketika sujud gue hampir menitihkan air mata. Mengingat semua dosa-dosa. Merasa malu dihadapan Tuhan. (:

Selesai menikmati sunrise kami bergegas packing untuk melanjutkan summit attack.

IMG_1609-0

IMG_1793

Kami mulai trekking summit attack jam 8 pagi.

IMG_1771

Merbabu. Pendakian yang berbeda dari semua pendakian yang pernah gue alami sebelum-sebelumnya. Bukan perkara mudah membawa beban/carrier hingga keatas puncak. Entah kenapa selama summit attack diri gue terus berontak meminta untuk menuruti egoisme. Hanya ada satu tujuan utama yang harus segera dicapai. Puncak!

Setelah hampir ± 3 jam treking dari pemancar, sekitar jam 11.00 kami menapaki puncak Kenteng Songo Merbabu, 3142 Mdpl.

IMG_1760

Pendakian yang sempurna. Walaupun sempat gue mengalami clash dengan anggota tim, tapi over all semua berjalan rapih, terorganisir dengan baik. Pada akhirnya gue bisa tersenyum mengingat semua rangkaian proses itu.

Gue terkesima melihat lukisan Tuhan dari atas Merbabu. Menyapa langsung sang “Raja Yogyakarta” Merapi dari dekat. Lalu terucap sebuah kalimat “Suatu hari nanti bakal gue daki dengan cara yang bijaksana”.

IMG_1722

Terpikirkan saat itu, mungkin setelah ini (Merbabu) gue akan istirahat panjang untuk pergi ke gunung sampai waktu yang tidak ditentukan. Lupakan sejenak Rinjani. Mungkin baru akan tahun depan. Semoga.

Teringat akan sebuah kutipan dari sebuah buku yang pernah gue baca, 2 tahun perjalanan ini benar-benar mengajarkan bahwa; setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, dan setiap jam adalah waktu belajar.

IMG_1901-0

Gue hanya ingin rehat sejenak, fight dengan dunia yang gue jalanin saat ini. Bagaimana mungkin gue melupakan alam liar yang sudah banyak memberikan pelajaran nilai-nilai kehidupan. Ngga bisa, dan gue pastikan itu ngga akan terjadi. Selama gue masih mampu dan diberi kesempatan dan rezeki gue akan terus menjelajah negeri ini.

Processed with VSCOcam with t1 preset

Mungkin saja penjelajahan gue dikemudian hari akan jauh berbeda dan akan lebih seru. Gue berencana melakukannya dengan anak-istri gue nanti. (:

Gue hanya ingin memastikan kalo gunung itu kurang cocok dijadikan tempat destinasi liburan buat kalian yang sekedar berniat refreshing semata. Kenapa?

Quote ini datangnya dari Kadekarini “Keindahan pemandangan yang ditawarkan dari pendakian sebuah gunung pasti sudah banyak diketahui banyak orang. Tapi tetap, gunung bukanlah tempat yang bisa di pandang sebelah mata. Bukanlah sebuah tempat untuk mewadahi keriangan sementara tanpa pertanggung jawaban. Bawa turun kembali sampah kalian”.

IMG_1751

Sedikit advice buat teman-teman yang akan mendaki Gunung Merbabu dan masih bingung memilih jalur mana yang akan ditempuh. Mungkin ini sedikit dapat membantu;

Pertama; pastikan dari mana kalian datang, sesuaikan dengan pos pendakian terdekat yang ada. Jalur utara (Magelang, Salatiga) ada Kopeng yang dibagi 2 (dua) Chuntel dan Thekelan, dan Wekas. Namun ada juga jalur baru via Swanting. Kemudian jalur Selatan (Boyololi) ada jalur newselo.

Kedua; Jalur Utara khususnya Wekas; normal waktu pendakian bisa ditempuh ± 5 s/d 6 jam untuk bisa sampai di pos pemancar dan mata air tersedia cukup berlimpah sampai dengan pos 3. (disini kita juga sudah bisa mendapatkan sunrise/sunset). Untuk Kopeng mungkin kurang lebih sama untuk jangka tempuhnya. Namun untuk Wekas trek tergolong standar. Ya, kalo ngga mau nanjak ngga usah ke Gunung lah ya. (:

Jalur newSelo; ini trek bener-bener gilak. Secara pribadi gue ngga recommended buat kalian yang punya mental pas-pasan kalo ingin sampe Puncak Merbabu via selo. Trek ini mending dipake buat turun. Treknya panjang dan menanjak cukup ekstrim memasuki kawasan Sabana I dan II hingga ke puncak. Selain itu sumber air tidak tersedia sama sekali selama jalur pendakian.

Kalo yang baru pertama kali dan akan ke Merbabu saran gue mending naik via Wekas dan turun Selo. Walaupun effortnya besar juga, karena kalian harus bawa carrier hingga ke puncak dan prepare persedian air yang cukup hingga tiba di basecamp selo.

Lempuyangan – Jombor menggunakan Bis TransJogja : Rp 3.500

Jombor – Magelang : Rp. 12.000

Magelang – Wekas/Kopeng : Rp. 10.000/15.000

Wekas – Basecamp (sewa Mobil bak terbuka) : Rp. 25.000/orang

HTM Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu : Rp. 15.000/orang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s