This moment will just be another story. Someday.

Untuk pertama kalinya gue melakukan pendakian dengan orang-orang baru dan dalam skala besar. Hari Jumat pertama di bulan April bersama 16 orang teman  lainnya dari PT Dirgantara Indonesia melakukan pendakian ke Gunung Gede.

Dimulai dengan beberapa sesi photo kemudian kami memulai perjalanan pendakian.

br />
IMG_1240

IMG_1110

Kami melakukan pendakian melalui jalur Cibodas dimana track pendakian tidak terlalu ekstrim dengan pemandangan yang memanjakan mata namun demikian jalur ini sungguh melelahkan karena menempuh waktu yang begitu lama jika dibandingkan dengan jalur Gunung Putri.

Diawal perjalanan gue sudah di overlap oleh beberapa teman, bahkan teman yang baru pertama kali mendaki (newbie) yang notabene adalah seorang perempuan.

Sampai di Talaga Biru tim beristirahat sejenak. Kemudian seseorang menghampiri dan membisikkan sesuatu. “Lutut lo kopong ya Wo?” Brengsek! “Kurangin coli kalo mau naik gunung” tambahnya.

Dialah Awang seorang teman dadakan yang baru gue kenal beberapa jam lalu.

Awang memimpin di barisan depan bersama  Juntak, Inesh, Finda kemudian gue yang coba mengimbangi mereka hingga ke pos Panyangcangan. Sampai di pos Panyangcangan beberapa teman penyempatkan diri untuk mampir ke air terjun Cibereum.

Seketika kabut mulai menutupi Panyangcangan disertai suara petir. Memprediksi akan turun hujan gue membongkar isi carier dan memasukkan perbekalan ke dalam trash bag dan mempacking ulang. Benar saja hujan turun begitu deras. Sesuai dengan voting perjalanan tetap akan dilanjutkan siang itu.

Ini adalah pendakian pertama gue terkena hujan dan gue ngga preparing dengan baik. Sempat diingatkan oleh sahabat untuk membawa raincoat, tetapi gue hanya membawa ponco dan akibatnya…

Ditengah jalan gue kesulitan untuk melangkah karena ponco bagian depan terlalu panjang hingga mengganggu langkah. Gue masih belum bisa beradaptasi dengan keadaan hujan dan ritme langkah yang amburadul. Masih, diposisi terbelakang. Sungguh pendakian yang begitu tidak nyaman yang pernah gue alami.

Jangan pernah sekalipun membayangkan semua akan mudah nantinya. Equipment yang mendukung akan mempermudah pendakian. (:

Mendekati shelter setelah Panyangcangan hujan mulai reda diikuti munculnya sinar matahari. Semua tim sejenak beristirahat memulihkan tenaga, memakan amunisi yang mereka bawa.

Kami melewatkan ibadah sholat jumat siang itu. Kami melanjutkan perjalanan sekitar jam 12 setelah waktu adzan dzuhur. Kemudian menggunakan alat bantu trackpole gue memberi isyarat kepada Awang dan yang lain untuk kembali melanjutkan pendakian.

Kali ini langkah gue mulai mendapatkan ritmenya begitupun dengan nafas yang perlahan beraturan. Mendapatkan ritme yang baik dan suasana tim yang begitu friendly kami berlima ternyata meninggalkan jauh teman-teman dibelakang. Sampai di shelter sebelum Air Panas kami memutuskan istirahat sembari menunggu teman-teman dan mengobati salah satu anggota; Inesh yang merasakan nyeri pada punggungnya.

Tak kunjung datang setelah beberapa menit, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan sepakat menunggu di camp kandang batu.

Tak genap 10 menit memulai perjalanan, kami kembali dihajar hujan yang lebih lebat dan petir yang semakin sering dari sebelumnya. Ponco yang sejak tadi sudah mulai rembes oleh air kali ini benar-benar sudah tak berguna.

Sepanjang jalur pendakian yang kami lalui tak ada satupun pos yang dapat kami singgahi karena semua pos telah penuh digunakan berteduh oleh pendaki. Terpaksa perjalanan dilanjutkan walaupun sebenarnya saat itu trecking tidak direkomendasikan. Konyolnya diantara kami berlima tak ada satupun yang mendapatkan jatah fly sheet.

Hingga di kawasan air panas tim tertahan di tengah jalan karena banyaknya pendaki yang berteduh di pos tsb. Cukup beresiko ketika kami berada di kawasan air panas, dengan keadaan hujan lebat, Uap dan kabut yang menghalangi jarak pandang ditambah arus air yang begitu kencang dengan track yang sempit disisi jurang yang hanya di batasi dengan seutas tali!

Can you imagine?

Dengan sangat terpaksa kami akhirnya join fly sheet dengan pendaki dari Jakarta di kawasan air panas.

Setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya beberapa teman yang tertinggal dibelakang sampai di kawasan air panas, karena sudah tidak ada space mereka memutuskan untuk langsung mendirikan tenda di Kandang Batu. Kami pun segera menyusul ke Kandang Batu.

Nyaris saja kami tak mendapatkan tempat yang layak untuk mendirikan tenda di Kandang Batu. Gue dan Awang butuh waktu 10 menit menyisir Kandang Batu untuk mendapatkan lapak. Space yang kami dapatkan semacam kubangan air dan kami harus terlebih dulu bekerja  sebelum mendirikan tenda. Dibawah guyuran hujan, Gue, Awang & Juntak bekerja secepat mungkin untuk bisa mendirikan tenda, kami mencari sisa-sisa tali raffia guna mengikatkan fly sheet, membuat saluran air, dan mengeruk beberapa lumpur. Hingga akhirnya masa kritis tersebut terlewati setelah hampir satu jam kami bersusah payah.

Beberapa teman lalu menghampiri kami yang baru saja berhasil mendirikan tenda dan mengatakan akan melanjutkan perjalanan hingga Kandang Badak. Banyak alasan mendasari kepergian mereka saat itu untuk melanjutkan perjalanan. Salah satunya untuk bisa melihat sunrise di summit.

Gue tetap pada pendirian saat itu. STAY!

Akhirnya Juntak memilih bergabung dengan yang lain untuk melanjutkan perjalanan dan bergabunglah Guntur dan kembalinya Finda ke tim.

Rule: Sampai di Summit itu pilihan tapi pulang itu keharusan!

Know your limit. You have another chance when you fail to reach summit. May be next week, month, year, but don’t be fool. Plan and prepare yourself to achieve your goal. Simple. Enjoy your journey! And remember. Essential.

Didalam tenda sewaan yang ukurannya sangat minimalis kami berlima mulai membuka topik pembicaraan berteman segelas coklat hangat. Walaupun dengan suasana darurat dan apa adanya. Sungguh. (:

And you know what? I have a new nick name. The chef. Gue menyiapkan makan malam dari perbekalan yang dibawa, pilihan jatuh kepada sarden.

Udah. Sarden. Aja. Iya. Sarden. Aja. Menu. Malam. Itu.

Selesai menu santap malam minimalis. Sarden. Kita memutuskan untuk tidur. Permasalahan pun tiba. Space yang ada sungguh-sungguh tidak nyaman. Kami harus memiringkan badan agar lima orang ini dapat tidur. Opsi lainnya adalah Guntur berada di luar tenda. (:

Apa daya badan lelah tapi mata tak dapat terpejam akhirnya tidur malam di pending hingga kami selesai menyantap French fries dan beberapa permainan ABC5Dasar. Ya, begitulah. Tak ada satupun dari kami berani bermain truth or dare.

Yang gue ketahui malam itu Guntur menang banyak karena tidur bersebelahan dengan Finda. Kidding.

Sabtu pertama dibulan April dibuka dengan sarapan roti bakar Nutella dan secangkir Coklat hangat selanjutnya kami membahas kelanjutan perjalanan yang tertunda. Keputusan telah diambil  dan kami akan melanjutkan pendakian. Melihat antusiasme teman-teman yang ingin sekali menapaki Puncak Gede, sesegera mungkin kami bergegas menyiapkan perbekalan secukupnya untuk bekal ke Puncak. Tepat jam 7 pagi kami memulai perjalanan dari Kandang Batu menuju Puncak Gede. Target estimasi waktu sampai di Puncak Gede adalah jam 10.

Tak memungkinkan menggunakan sepatu yang telah basah untuk summit attack dan seperti dejavu yang terulang ketika mendaki Cikuray gue hanya beralaskan sandal jepit “terbaik” swallow. Tanpa beban kulkas, hanya membawa mini sling dan mendukungnya udara pagi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) gue langsung memimpin pendakian.

Anehnya Finda & Inesh yang sejak kemaren fisiknya prima tiba-tiba drop. Di persimpangan jalan Kandang Badak gue melihat jalur ke arah Pangrango. Dilemma menyerang. Ah, sudahlah. Sepanjang jalan kami bertemu dengan pendaki lain yang hendak turun.

Semua menyemangati. “Sebentar lagi Mas/Mba”. “Setengah jam lagi nyampe puncak”. Kalimat-kalimat itu sungguh PHP. Adrenalin kami dipacu ketika harus melewati Tanjakan Setan dengan kemiringan ± 80° (derajat). Seru!

IMG_1124-0

IMG_1121-0

Melewati Tanjakan Setan fisik Finda & Inesh mulai terkuras. Setelah hampir 2 jam lebih kami akhirnya menapaki kaki di Puncak Gede. Sayangnya, Finda tidak dapat melanjuti hingga Puncak karena kelelahan. Padahal Puncak Gede hanya tinggal berjarak  ± satu kilometer.

br />
IMG_1237

IMG_1221

Awang menemani Finda yang kelelahan dan Gue, bersama Guntur & Inesh menuju Puncak Gede. Dari atas Puncak Gede kami melihat Alun-alun Surya Kencana. Terlihat persis warna tenda di Surya Kencana seperti yang kami gunakan dan kami meyakini bahwa itu adalah teman-teman yang kemaren sore melanjutkan perjalanan. Hanya satu kata yang terlintas saat itu, salut buat mereka.

Atas beberapa pertimbangan, kami bertiga tidak turun ke Surya Kencana. Seperti ngebugle memang rasanya ke Puncak Gede tapi tidak berkunjung ke Surya Kencana. Setelah berhasil mengambil beberapa moment lumayan epic di Puncak Gede kami bertiga lekas turun kembali ke Kandang Batu.

Dugaan kami salah. Ketika hendak turun dari Puncak Gede kami malah berpapasan dengan teman-teman tim yang lain. Ternyata mereka tetap sesuai dengan rencana ngecamp di Kandang Badak. Sayangnya, mereka tidak full team ketika summit attack. Nadira tidak dapat melanjutkan pendakian karena fisik yang tidak mendukung. Begitupun dengan Taufik yang harus berada disisi Nadira saat itu.

Gue meminta izin kepada ke-empat partner untuk turun lebih dulu siang itu. Setelah Satu jam melakukan perjalanan sampailah gue di Kandang Batu (tenda). Tak banyak membuang waktu gue segera memasak air dan nasi. Tepat jam 1 siang hujan kembali turun. Permasalahan baru muncul, fly sheet yang kami gunakan tak mampu menahan derasnya hujan dan tenda yang kami gunakan bocor.

Untungnya Guntur cepat kembali ke Tenda dan membantu mengencangkan ikatan fly sheet pada pohon. Aman lah tenda sewaan minimalis kami.

Sesuai dengan jadwal kita harus sampai di Cibodas jam 8 malam untuk selanjutnya menuju Bandung menggunakan Travel carteran. Siang itu kembali kawasan TNGGP diguyur hujan cukup deras.  Selesai makan siang beberapa teman mencoba untuk tidur (Powernap) guna memulihkan tenaga.

Masih diselimuti rasa malas, sore itu mau tak mau kami harus tetap turun ke Cibodas. Selesai packing tak satupun dari kami yang ingin keluar tenda lebih dulu. Semua masih dalam suasana MAGER.

5 Menit sesudah perdebatan panjang. Kami satu persatu keluar dari tenda. Mengingat baju kering yang tersedia hanya tinggal satu pasang sore itu gue memutuskan untuk menggunakan baju basah yang kemaren gue pakai.

Melihat tenda yang sudah tidak berbentuk ingin rasanya meninggalkan tenda tsb begitu saja untuk dihibahkan. Sekitar jam 5.30 sore kami turun dari Kandang Batu.

Amsyong! Hanya gue yang tidak menggunakan raincoat sore itu dalam keadaan hujan. The worst trecking ever! Sampai di Panyangcangan gue bergantian dengan Awang untuk membawa trash bag. Dengan fisik yang mulai melemah gue berada diposisi terbelakang terpisah dari yang lain.

Jarak tempuh yang sama lamanya seperti saat berangkat, sempat terpikir apakah gue sedang “dijaili” oleh penunggu TNGGP. Gue mulai mengingat-ngingat apakah gue sempat mengeluarkan kata-kata sompral. (:

Tepat jam 8.30 kami berlima akhirnya sampai di Pos Cibodas. Tapi kami belum bisa keluar kawasan TNGGP dan tertahan di Pos tsb karena SIMAKSI dibawa oleh Defri yang masih dalam perjalan. Sempat berdebat dengan petugas untuk beberapa saat namun tetap saja kami tetap tidak diizinkan keluar.

Setelah mengambil voting akhirnya kami memutuskan untuk tidur di pondok yang ada dikawasan Pos Cibodas sambil menunggu teman-teman yang kemungkinan masih dalam perjalanan. Matras dan sleeping bag kami gelar dibawah lantai. Sekitar jam 11.30 teman-teman yang telat tiba di pos Cibadak.

Minggu dini hari tepat jam 1 pagi tim beranjak meninggalkan kawasan TNGGP dan langsung bertolak ke Bandung. Hening, tak satupun ada yang bicara ketika telah berada di dalam mini bus yang kami sewa.

Note: Jika kalian bepergian bersama orang-orang yang menyenangkan, percayalah perjalanan kalian pun akan menyenangkan.

Faktanya:

Ini adalah pendakian pertama gue terkena hujan baik saat berangkat dan pulang.

Anehnya ngga sedikitpun gue merasakan homesick.

Melewatkan nutrisari di summit.

Summit attack menggunakan Sendal jepit “terbaik” Swallow Original.

Pendakian pertama tanpa seorang sahabat yang selama ini selalu bersama apabila naik gunung.

Benar-benar menikmati menjadi chef dadakan karena terpaksa.

Status belum pernah boker digunung masih tetap dipertahankan sejauh ini.

Kembali gue melihat untuk kesekian kalinya  ada yang memakai tshirt National Geographic.

Sekian. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s