Comfort Zone

A comfort zone is a beautiful place but nothing ever grows there.

Untuk beberapa saat gue sempat terdiam membaca quote ini. Kemudian muncul berbagai hal menggantung dipikiran.

Begini; Sejak lama gue mencoba keluar dari zona nyaman memilih untuk menikmati status single dalam waktu yang lama, bertahun tahun. Tak ada ikatan dengan seseorang membebaskan gue menikmati hari sepanjang tahun semau yang ingin gue lakukan. Membaca buku berjam jam, ngeteh sambil menunggu sunset setiap sore selama seminggu penuh, pergi ke toko buku kapan pun yang gue mau, olahraga seharian di waktu weekend, naik gunung berhari-hari, kongkow bersama teman-teman dan kebebasan lainnya.

Now, what?

I feel I’m getting older (yes, we all are getting older each day) and I have responsibilities to be fulfilled. Being settled in career is my very first move to prepare my self to the next step, where I have to start to think about marriage life. Who will be the one? Who fits me perfectly and willing to spend her life with me until the death tear us apart.

Sepadan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; tidak lebih tidak kurang, selaras; sesuai.

Jelas. Keywordnya adalah sepadan. Carilah orang yang sepadan. Idealnya sih seperti itu. Kalaupun tidak menemukan yang sepadan?

Disela jam istirahat, gue memutar playlist music dan tak sengaja siang itu gue mendengarkan lagu “Mata Hati Telinga” dari Maliq n D’essentials. Tak sadar ketika lagu tersebut selesai, gue merepeatnya. Lagi, dan lagi.

Ilmu hidup nomor 4; belajar ikhlas. Ikhlas menerima kekurangan orang disekililing kita. (:

Why, talking about soulmate, livelihood, bereavement something of a mystery? Many explanations for this, but one thing for sure. Why so serious? Make it simple. Just do it bro.

Hahaha… Fuck!

Lucu memang ketika melihat seseorang sudah mulai menyemangati diri sendiri berarti saat itulah dirinya telah sampai pada level give up yang menghawatirkan.

I think I’m in my lowest point. Hopeless? Ohh, how I hate calling my self a hopeless one. But yes, kinda hopeless. But why should I feel hopeless? I still can feel the air, feel the oxygen run in to my lung. I’m alive. And it left me with no reason to be hopeless, but to keep trying and believing that in the end I will get back on my track and achieve my goals. Amin.

 
I told you “IKHLAS” the best way to reach great future and happiness even in case “SEDERHANA”. And the question is, would you?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s