Liburan Indie

Nah, seperti biasa. Bingung di opening. Mau mulai dari mana. Bangkek.🙂

Sometimes, best moments happen when they are unplanned. Dengan persiapan serba mendadak gue segera mengontek salah satu sahabat sebut saja dia si Hiu, untuk meminjam carrier dan tenda sebagai persiapan pendakian ke Cikuray, Garut.

Sabtu itu gue bersama kedua teman Risya dan Asep tampak cukup sibuk mempersiapkan segala perlengkapan. Maklum ini adalah pertama kalinya bagi kami mempersiapkan segala sesuatunya dengan sendiri. Biasanya ketika akan melakukan pendakian kami hanya “join” dengan teman yang memang sudah expert. Ngga usah repot cari tenda, alat masak trangea, persediaan logistik, akomodasi, perizinan, dll. Istilah kerennya “tahu beres” hanya ikut sumbang menyumbang.

Minggu pagi sebelum berangkat gue masih sangsi antara akan memakai sneakers atau boots untuk pendakian. Setelah mendapat saran akhirnya gue memakai boots.

Dari Batujajar, Kab. Bandung Barat kami menggunakan bus. Madona. Ya, nama busnya adalah Madona tujuan terminal Leuwipanjang via Tol. Kami membayar Rp. 6.000,-/orang.

Sampe di terminal Leuwipanjang kami menggunakan mini bus (elf) tujuan Dayeuh Manggung. Ongkos Rp. 20.000,-orang.

Sialnya setelah sampe Garut tak jauh dari Tarogong, kami diturunkan ditengah jalan karena muatan kosong. Kami dialihkan ke salah satu angkutan umum. Setelah beberapa saat melihat suasana kota Garut dengan gadis-gadis ayunya yang berseliweran dimana-mana, gue rekomendasi-kan Garut buat jadi tempat hunian di masa depan. Menurut gue ini adalah sebuah pilihan alternative untuk mendapatkan taraf hidup layak saat ini ketika bagi sebagian orang yang sudah merasakan jenuh dengan hiruk pikuk kehidupan kota urban.🙂

Sedikit advice aja buat kalian yang memang baru pertama kali akan mendaki ke tujuan yang memang belum pernah dikunjungi, pastikan bahwa angkutan umum yang membawa kalian benar-benar membawa ke tujuan yang tepat. Karena sering kali supir ataupun kernek meyakinkan kita dengan tujuan yang benar tapi ketika di tengah perjalanan diturunkan begitu saja dengan berbagai alasan. Buatlah second opinion sebelum benar-benar memilih angkutan umum. Tanyakan pada orang disekitar yang sekiranya dapat dipercaya. Tentu saja ini untuk meminimalisir kerugian waktu, biaya, dll.

Sampai di Dayeuh Manggung (Pangkalan Ojeg) kami bertiga nego harga untuk sampai ke Pemancar dengan menggunakan ojeg. Rata-rata mereka menawarkan dikisaran harga 30-40 ribu/orang. Jago-jagolah menawar sampai diharga paling murah.

Dari pangkalan ojeg sampai pemancar kita akan disuguhi pemandangan perkebunan teh. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke pemancar. Kenapa disebut pemancar karena memang banyak tower pemancar sinyal milik stasiun TV. Bagi pendaki yang memang membutuhkan air mineral botol ataupun persediaan makanan ringan, seperti mie instan, roti, untuk bekal selama pendakian di pemancar banyak tersedia warung yang menjual kebutuhan tersebut. Tenang bagi kalian yang ingin buang air kecil/besar ataupun mandi disini tersedia pula toilet umum. Bisa dibilang Pemancar ini seperti Ranupanenya di Semeru.

Sebelum mendaki kita akan di data oleh pihak petugas Gunung Cikuray. Sekedar info saja Gunung Cikuray ini belum menjadi Taman Nasional jadi masih dikelola oleh swadaya masyarakat setempat. Setelah di data kita akan diminta biaya administrasi (read: sedekah seridhonya). Sedikit saran kalo bisa disesuaikan dengan jumlah orang yang naik, ya, kalo naik 10 orang minimal kasih dua puluh ribu lah.

Seperti ritual-ritual pada umumnya kami bertiga berdoa meminta keselamatan selama pendakian dan saat turun nanti.

Kurang lebih 2 km pendakian akan masih berupa track perkebunan teh dan menemukan beberapa ilalang berwarna ungu (bila mendaki di musim hujan).

image

Saat itu kami bertiga berangkat mendaki tepat jam 3.30 wib. Dari awal, kemiringan pendakian sekitar 60-65 derajat dan ini yang membuat gw dan risya mendapat pukulan telak di awal-awal.

image

Maklum saja gw dan risya adalah tipe pendaki tim hura-hura, alon-alon sing penting sampe puncak. Berbeda dengan asep yang terus mendaki tanpa memedulikan kami berdua. Tancap gas!

image

Barulah setelah diingatkan asep menurunkan temponya dan berada di barisan paling belakang. Jujur saja gw dan risya butuh Aklimatisasi sejenak. Gayanya aklimatisasi berasa mendaki Everest aja.🙂

Setelah istirahat sejenak dan kembali melanjutkan pendakian tiba-tiba sepatu boots yang gw pake jebol bagian bawah (lem lepas). Padahal pendakian baru sekitar 1 km. Kita bertiga saling pandang. Kikuk. Sementara puncak mulai terlihat gelap ditutupi kabut. Tak terlihat pula ada pendaki yang mendaki kala itu.

Seperti cerita gw diawal sebelum berangkat, gw sedikit sangsi mau pake sneakers atau boots. Dan terbukti firasat buruk itu benar-benar terjadi. Kemudian entah kenapa ketika selesai packing tiba-tiba gw memutuskan untuk membawa sandal jepit. Mungkin ini yang disebut intuisi. Berasa udah expert aja gw nih urusan mendaki.🙂

Tracking must go on!

Dan gw memutuskan memakai sandal jepit sampai ke summit! Harga mati!

Sebenarnya diantara kami bertiga saling memiliki unek-unek yang ingin dikeluarkan saat itu tapi kami menyimpannya sampai pada hari berikutnya ketika kami dalam perjalanan pulang.

Dengan segala kendala diawal pendakian mulai dari fisik yang tak begitu mumpuni khususnya gw dan risya, kemudian permasalahan sepatu yang jebol, dan faktor cuaca yang mulai berkabut, dan satu lagi faktor sugesti bahwa kami mendaki hanya bertiga pada malam hari tanpa ada pendaki lainnya. You know what I mean huh?!

Pandangan kita satu sama lain mengisyaratkan pertanyaan “mau gimana nih?” Sesuai dengan kesepakatan bersama akhirnya kami melanjutkan pendakian sore itu.

Sedikit sharing saja track di Cikuray ini mirip seperti pendakian dari Kalimati sampai dengan batas vegetasi (cemoro tunggal) Semeru. Bedanya hanya saja kalo Semeru struktur tanahnya vulkanis jadi berdebu. Sedangkan Cikuray berupa tanah merah (liat) seperti kebanyakan hutan tropis di Indonesia. Dan memang tipikal Cikuray kalo dilihat masih hutan belukar. Ngga ada pemandangan yang begitu “wah” yang bisa sering ditemui selama pendakian. Kita hanya bisa melihat barisan pepohonan dan track pendakian yang curam yang menurut gw menantang.

Menantang kalo pake sepatu Sob. Kalo pake sandal sih, ya, berat & cukup nyiksa!

image

Beberapa kali selama pendakian gw terpleset dan terjatuh karena tanah yang licin dan tidak mendukungnya sandal yang gw pakai. Padahal gw pake merk Swallow yang notabene harganya lebih mahal dari sandal jepit yang beredar dipasaran pada umumnya. Gw hanya takut kalo ditengah jalan sandal jepit yang gw pake putus. Walaupun sebenarnya asep masih punya sepasang sandal jepit di carriernya.

Mulai memasuki malam hari gw mulai merasakan hal yang sedikit menegangkan. Standar sih ya. Perubahan dari terang ke gelap aja. Posisinya saat itu gw di paling depan, risya dan asep saling tukar di tengah dan di akhir.

Nah, satu lagi nih advice yang bisa gue kasih. Jangan pernah meremehkan pendakian, selalu prepare dengan matang. Gw sebelum berangkat sedikit under estimate sama Cikuray. Gw nganggap mungkin ngga akan seberat pendakian ke Mahameru. Jadi gw pun ngga terlalu bawa banyak makanan ringan begitu banyak. Ternyata gw salah. Waktu di pos 3 gw kelaparan, perut udah keroncongan, perih, panas, pengen diisi. Dari pagi belum makan, baru diisi gorengan sama 2 lemper aja di pemancar.

Untung si asep bawa biscuit yang kandungan gulanya banyak. Glukosa bagus untuk nambah tenaga. Dan satu lagi kalo udah cape, lapar, makan apa aja bisa terasa nikmat kalo di gunung.🙂

Sopan santun salah satu yang harus dijaga ketika pendakian baik siang ataupun malam. Sama pentingnya. Ngga boleh sompral. Dan itu yang gw lakukan di Cikuray. Gw yang ada di depan sebagai pembuka jalan juga deg-deg’an kalo-kalo liat “amit-amit” sesuatu di depan. Yang tengah juga sama jipernya pasti. Tahulah mitos photo bertiga? Yang belakang juga sama seremnya. Bawaannya kadang suka pengen liat ke belakang trus sugestinya “ada siapa ya dibelakang gw?”.

Gw ngga pungkiri gw naik gunung terkadang ingin lari dari permasalahan yang sedang dihadapi entah itu permasalahan di rumah, perbedaan pendapat dengan orang tua, clash-clash kecil dan lain sebagainya, atau keluar dari tekanan-tekanan lainnya seperti kerjaan, percintaan dan lain sebagainya.

Cikuray malam itu memberikan gw sebuah pelajaran betapa nyamannya berada di rumah. Rasa syukur yang begitu besar mempunyai tempat singgah lengkap dengan segala fasilitas didalamnya. Terkadang gw lupa masih ada orang-orang yang belum seberuntung gw dalam hal hunian, jangankan hunian untuk makan sehari-hari saja gw yakin diluar sana masih ada yang bingung mau makan apa besok!

Naik Gunung bukan sekedar life style, atau ingin dapat pujian “cowo banget” atau apalah itu. Perjalanan pendakian gw yang pertama ke Mahameru membuka mata hati gw bahwa sesungguhnya naik gunung terdapat filosofi kehidupan didalamnya.

Proses. Sabar. Adalah salah satu kunci kalian bisa mencapai kesuksesan. Right?

Sama naik gunung pun demikian bagi gue yang punya fisik biasa-biasa aja. Naik gunung itu beresiko, sering kali gw memikirkan hal-hal yang jauh seperti kematian. Hal yang gw lakukan sebelum pendakian adalah jogging, (googling) baca karakteristik gunung yang akan didaki. Sama seperti menjalani hidup, gw butuh amunisi sebelum gw “perang”. Dan ini efektif untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

Beberapa kali gw gagal di psikotes atau interview untuk masuk sebuah perusahaan, gw coba lagi, latihan lagi. Gitu terus berulang sampe gw dapetin yang jadi impian gw!Pun ketika gw naik gunung, selalu ingin berhenti di tengah pendakian dan turun pulang. Tapi gw selalu percaya apa yang di dapat dengan cara yang ngga mudah itu akan berkesan! Epic!

Untuk sampe ke puncak emang ngga gampang semua butuh proses, effort, sabar. Ngga ujug-ujug gitu aja. Gw merasa beruntung bisa jatuh cinta dengan hobi ini. Walaupun sebenarnya kalo dipikir-pikir mau ngapain sih lo liburan naik gunung?

Cape, kasarnya “nyiksa” diri sendiri. Kenapa ngga ke pantai?

Ini bukan masalah cape atau pulang bawa baju kotor dan lain sebagainya. Tapi ini soal batin, dimana gw menemukan passion, gw merasa nyaman, gw bisa merenung, gw bisa merasa bisa bersyukur, gw merasa bisa lebih aware masalah lingkungan hidup, gw merasakan persahabatan yang begitu erat. Kalo masalah kenapa ngga ke pantai, gw juga suka liburan ke pantai. Tapi ini beda, beda sob. Ini sama seperti lo tanya kenapa tentara mau lagi ke medan perang untuk bela negaranya?! (black hawk down quote).

Lanjut ya setelah beberapa selingan. Sekitar jam 8.15 malam kita bertiga sedang menuju pos 6 atau sering disebut pos bayangan. Cukup sulit memang di Cikuray menemukan pos-pos yang ada karena memang keterbatasan infrastruktur yang ada. Tulisan Pos hanya ditempel dengan sebilah papan kecil di pohon.

Ada kejadian yang cukup menegangkan ketika kami bertiga melewati pos 6 dan menuju puncak, di perjalanan kami melihat cahaya putih (seperti lampu neon) dibelakang kami. Kami tahu itu cahaya lampu senter (neon). Kami meneriaki ke arah cahaya tersebut, dengan segala teriakan-teriakan isyarat. Tapi tak ada jawaban. Lalu cahaya itu menghilang. Kami pun mulai merasakan gelagat yang mencurigakan. Kami pun melanjutkan perjalanan ke puncak.

Tak lama cahaya putih itu kembali menyorot ke arah kami dari jarak kira-kira 400 meter dibawah kami. Kembali kami bertiga meneriaki ke arah tersebut namun tetap tak ada jawaban. Keanehan mulai berlanjut karena cahaya tersebut hanya ada satu. Logika kami bertiga mengatakan hampir tak mungkin ada seseorang mendaki seorang diri malam itu. Karena yang kami ketahui, kamilah pendaki terakhir yang naik.

Walaupun kami bertiga tidak saling berbicara satu sama lain, tapi kami bertiga saling tahu satu sama lain bahwa diantara kami saling ketakutan. Tanpa di komandoi akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan menunggu cahaya itu mendekat.

Setelah menunggu hampir lima menit cahaya lampu tersebut mendekat, suara ranting terinjak terdengar dari jarak 50 meter. Asep terus menyenter dari asal suara tersebut. Dan sesosok seorang pendaki bertubuh jangkung pun terlihat dari balik pohon seorang diri.

Kami tak langsung melanjutkan perjalanan. Rasa lega bercampur rasa takut masih menghampiri dan kami bertiga terus memastikan bahwa yang kami lihat adalah benar-benar manusia. Haha…

Gw lupa siapa namanya siapa, yang jelas orang tersebut sama pendaki seperti kami bertiga. Pendaki lokal asal Garut. Akhirnya kami mendaki bersama sampai puncak malam itu. Kami sampai puncak Cikuray sekitar jam 9.10 malam setelah mendaki kurang lebih 5 jam.

Worth it lah yang gw dapet di summit, cuaca lagi cerah malam itu, seperti ngga ada jarak sama bintang ketika memandang ke langit.

Pagi hari kami bersiap melihat sunrise dari puncak tertinggi di tanah Garut, Cikuray 2821 mdpl.

image

Landscape Garut terlihat semua dari puncak.

image

Gw lihat si Risya udah ngeluarin boneka dan photo-photo. Kayanya misinya berhasil banget tuh. Menang banyak kayanya sih.🙂

image

Si Asep juga ngga kalah narsisnya. Setiap abis photo selalu bilang “gilak, Bucek Dep banget gw ya”. Hmm.

image

Kalo gw? Biasa aja sih. Enjoy the moment.

image

Gw malah sebenarnya pengen banget share sama pasangan gw kelak. Walaupun ngga yakin pasangan gw punya hobi olahraga beginian.

image

image

Satu tips terakhir buat kalian yang emang berniat traveling untuk naik gunung. Jangan lupa bawa kembali sisa-sisa bungkus makanan yang kalian bawa! Sediakan plastik kosong sejak dari bawah sebelum sampai summit! Sekecil apapun itu terutama sampah plastik jangan dibuang sembarangan karena penguraian sampah plastik bisa memakan puluhan tahun bahkan ratusan tahun dan bisa merusak ekosistem lingkungan disekitarnya!

Motivasi kalian ke Gunung dari awal pastikan bukan hanya sekedar dibilang keren, dapat potret bagus dan sombong untuk di upload di Instagram, Path. Gw harap pengalaman gw bisa jadi sedikit inspirasi untuk kalian. Be inspired, be inspiring Guys! Itulah esensinya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s