LIFE IS AN ABSURD JOURNEY

Sebelumnya gw mau pinjem kata-kata yang ada di Header blognya Marischka Pruedence sebagai judul postingan kal ini.

Semua berawal dari sebuah rencana di bulan Agustus atau tepatnya pada bulan Ramadhan. Tanpa sengaja ide untuk trip ke Mahameru muncul dengan sendirinya. Walaupun sebenarnya trip ke Mahameru saat ini lebih terdengar “mainstream” karena efek dari film 5cm.

Rencana awal keberangkatan adalah bulan September, namun karena satu dan lain hal jadwal pun diundur menjadi diawal bulan Oktober. Setelah mendapat kepastian keberangkatan ke Mahameru dari teman akhirnya gw siap mengajukan cuti kerja. Sempat hopeless karena sebelum mengajukan cuti gw sendiri di mutasi ke unit kerja Ciroyom. Brengkes!

Akhirnya dengan bantuan Kepala Unit gw di pasirkaliki, cuti gw di acc oleh pihak Kantor Cabang Naripan sebanyak 5 hari terhitung dari tanggal 1 Oktober s/d 7 Oktober. Lucky Bastard!

H-7 gw mulai intens jogging, selain jogging gw juga mulai browsing apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk melakukan pendakian.

***

Selasa, 1 Okt 2013

Selesai sholat subuh gw mulai packing perlengkapan yang akan dibawa, tapi baru 10 menit beres-beres apa daya gw kembali ngulet. Haha…

Packing kembali dilanjutkan sekitar jam 10 pagi, mulai dari sleeping bag, matras, baju ganti, power bank, obat-obatan, buah-buahan, satu persatu masuk ke dalam carrier/ransel. Akhirnya gw cabut dari rumah bareng teman SMA (Risya) sekitar jam 2.10 menuju kantor lama gw di Pasirkaliki. Dari Paskal gw langsung menuju ke stasiun Bandung, hujan pun turun ketika gw memasuki pelataran stasiun.

Ini salah satu yg gw tunggu-tunggu dari perjalanan ke Mahameru. Kereta Api. Klasik. Unik. Dan ini juga kali pertama gw naik kereta api kelas ekonomi utk perjalanan jauh. Kereta api kelas ekonomi sekarang lebih manusiawi, jauh lebih nyaman dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di stasiun gw dan Risya bertemu teman lainnya, Rawing, Hamim, Wulan.

Di stasiun kami berlima menjadi pusat perhatian banyak orang, ya, satu perempuan gila bersama empat pemuda tanggung dengan carrier/ransel besar berjalan sepanjang pelataran ruang tunggu stasiun. Entah kenapa buat gw saat itu kejantanan gw meningkat 11 kali dari biasanya. Rasanya seperti baru meniduri 5 wanita sekaligus. Haha….

Kuda besi itu mulai bergerak maju. Kereta berangkat tepat jam 4.30 dan sepanjang perjalanan gw menikmati suguhan pemandangan persawahan, bukit-bukit, bocah-bocah di perkampungan sedang bermain bola & ibu-ibu menyusui.

2013-10-01 16.50.59

(Sore hari saat perjalanan berangkat melewati daerah Garut)

Di perjalanan sempat beberapa bocah-bocah kampung melempari kereta yang kami naiki dengan batu dan meneriaki kami “Bonek”. Buat gw ini lucu aja, bocah seumur mereka melempari kereta dengan batu dan mengeluarkan kata-kata sumpah serapah. Shock juga sebenernya melihat bocah seumur mereka melakukan hal tersebut.

2013-10-02 06.23.43

(Kaca Kereta yang sudah retak akibat dilempari batu oleh oknum warga)

Sepanjang perjalanan gw lebih banyak berdiam diri menikmati pemandangan, sesekali ikut bercanda dengan yang lain saling melempar jokes satu sama lain. Tertawa puas membahas kebodohan yang dilakukan Vicky dengan bahasa “Vickynisasinya”.

Sampai pada suatu malam gw berpindah tempat duduk ke bangku sebelah yang ada didepan. Lalu menyapa perempuan berkerudung yang ada dihadapan gw. “Tujuan Malang mbak?”

“Oh, bukan. Jogja Mas”. Jawabnya lembut.

“Mau ke Malang?” Tanya perempuan itu.

“Iya” jawab gw singkat.

“Liburan?”

“Iya, ke Mahameru” jawab gw dengan lantang!

Tampaknya ia tahu bagaimana harus menanggapi jawaban gw saat itu. Dan senyumannya cukup membuat percakapan malam itu mulai mencair. Entah kenapa ngobrol dengan seseorang yang satu almamater lebih menyenangkan dan chemistry’nya lebih mudah terbangun. Setelah saling bertukar cerita dan pengalaman akhirnya diantara kita berdua sudah mulai lelah dan menginjinkan satu sama lain untuk beristirahat sejenak.

Sampai pada ketika gw terbangun dari tidur dan kereta telah sampai di stasiun Tugu Yogyakarta,

gw mendapati perempuan yg ada di depan gw beberapa jam yang lalu menghilang. Gw coba cek rak atas tempat menyimpan tas. Kosong. Tasnya pun sudah tidak ada. Sebagian besar penumpang terlihat masih terjaga dalam tidurnya. Ngga ada satupun orang di dekat gw yg bisa gw tanyai. Hanya ada satu cara pikir gw saat itu, turun dari kereta dan coba mencari. Belum sempat turun dari kereta tiba-tiba suara informasi dari stasiun kereta Tugu terdengar. “Kereta Api Malabar jurusan Malang akan segera berangkat dari jalur 1”. Badan gw pun  sedikit oleng karena kereta perlahan mulai bergerak maju. Ngga banyak yang bisa gw perbuat saat itu dan memilih kembali duduk dibangku sambil memandang keluar stasiun Tugu yang perlahan berlalu dari balik jendela.

Masih terdiam gw memasang earphone yang terlepas dari telinga. What a moment. Gw menikmati sekali setiap detiknya, memaknai setiap detail lirik yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara.

“seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu…

Walau kini kau tlah tiada tak kembali Namun kotamu hadirkan senyummu abadi”

(Penggalan lirik Yogyakarta – Kla Project)

Dalam hati gw bergumam “Kampret belum dapet user twitternya tuh cewe!”

Ngga lama berselang, Om Rawing menghampiri. “Makan dulu nih, gw beli nasi kucing. Cewe yang tadi siapa?”

“Sip. Bukan siapa-siapa” jawab gw lemas.

Setelah menghabiskan sebungkus nasi kucing yang sedikit agak asem (haha..) gw melanjutkan tidur, karena perkiraan kereta sampai di Stasiun Kotabaru Malang sekitar jam 8.10 pagi. Lumayan pikir gw masih ada waktu  kurang lebih 8 jam untuk istirahat.

Hampir 6 jam terlelap ketika terbangun gw mendapati kereta sudah sampai di kota kelahiran Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Blitar.

2013-10-02 05.14.30

(Jam 6 pagi kereta sejenak berhenti di stasiun Blitar)

Sinar matahari mulai menyapa masuk ke dalam kereta. Dan kembali mata gw disuguhi oleh hamparan sawah yang luas dan perumahan warga beserta segala aktivitasnya. Ada yang memberi makan ternaknya, menjemur gabah kering, berangkat sekolah, mengasuh anak, atau sekedar duduk santai di depan teras rumah. Sesekali gw melihat warga yang mandi atau buang air besar di pinggir kali. Tanpa ragu mereka melambaikan tangan.🙂

2013-10-02 05.37.46

(Menikmati sunrise dari dalam kereta)

***

Rabu, 2 Okt 2013

Setelah hampir kurang lebih melakukan perjalanan 16 jam menggunakan kereta, sampailah kita di Stasiun Kotabaru Malang. Bersama penumpang lain satu persatu dari kami menuruni kereta Malabar yang kita tumpangi. Di stasiun Kotabaru Malang lagi-lagi kami menjadi pusat perhatian penumpang lainnya. Walaupun menjadi pusat perhatian tapi kali ini perasaan gw biasa saja, tidak seperti di Stasiun Bandung. Haha.

Di pelataran Stasiun Rawing, Risya, dan Hamim mengisap rokok sejenak menghilang kepenatan, sementara itu gw dan Wulan duduk-duduk cantik di trotoar jalan. Tak lama beberapa orang menghampiri kami menawarkan tumpangan/carteran ke Pasar Tumpang. Tampaknya mereka sudah tahu benar akan kemana kita pergi. Setelah bernego harga kami berangkat menuju Pasar Tumpang yang jaraknya lumayan cukup jauh dari Stasiun Kotabaru Malang. Kurang lebih 30 menit perjalanan.

Sesampainya di Pasar Tumpang kami bertemu dengan pendaki dari Kota lain seperti Jogja dan Palembang, bahkan turis mancanegara. Di pasar Tumpang ini kami belanja perbekalan makanan selama mendaki. Mendengar perbincangan teman-teman dari kota lain, entah kenapa gw merasa ciut berada disana. Sungguh ini dunia baru buat gw!

Dari Pasar Tumpang tempat gw berdiri saat itu, gw bersama Risya hanya memandang takjub apa yang kita lihat dari kejauhan. Mahameru. Hati gw masih ragu kalo gw bakal mendaki puncak Mahameru beberapa hari kedepan. Risya cuma bilang ke gw sambil menunjuk Mahameru “Dapet salam noh dari Mahameru!”. Bisa dibilang ini pandangan pertama gw dengan Mahameru.

Malang ternyata hampir serupa dengan Bandung. Fanatik warga terhadap klub sepak bola lokal terbilang tinggi. Sepanjang perjalanan dari Stasiun hingga Pasar Tumpang banyak gambar visual Klub sepak bola Arema di tembok bangunan warga. Bahkan ada gambar yang sempat mencuri perhatian gw.

2013-10-02 08.57.51

Pagi menjelang siang, kami bersama rombongan pendaki dari kota lain siap berangkat ke camp Ranupani menyewa kendaraan “jeep” atau Hardtop – Toyota Land Cruiser. Toyota Land Cruiser yang kami naiki ini mirip seperti yang ada di rumah gw. Hanya bedanya mesin mobil yang ada di rumah gw ngga setangguh yang gw naiki saat itu. Total hampir 20 orang yang diangkut ke atas mobil + barang-barang bawaan pendaki yang beratnya bukan main.

Awalnya gw ngga percaya kalo rombongan + barang bawaan sebanyak ini diangkut sekaligus? Mungkin ini yang disebut pertanyaan orang awam. Haha..

2013-10-02 09.06.02 _MG_2141

(Kendaraan yang mengantar kami sampai pos Ranupane)

Ketika mesin mobil menyala dan supir mulai tancap gas hanya satu kata yang gue ucap “Bismillah” lalu, disertai teriakan suka cita dari para rombongan pendaki. “Woooo…”

Okay, fuck you!

Setelah hampir 20 menit perjalanan menggunakan “jeep” rombongan mulai disuguhkan dengan hamparan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang begitu luas. Memasuki TNBTS  trek perjalanan semakin menanjak selain itu jalur kendaraan yang digunakan cukup sempit tak ada pembatas jalan di samping-sampingnya, terkadang sesama pengguna jalan harus berbagi satu sama lain karena sepanjang jalur yang kita lewati sisi-sisinya berupa jurang yang terjal.

Sungguh ingin rasanya gw bilang ke supir “alon-alon Pir, asal Kelakon”. Gw yakin seluruh rombongan merasakan hal yang sama dengan yang gw rasakan saat itu. Jantung berdebar lebih cepat dari biasanya bahkan lebih cepat ketika kalian diteriaki maling mangga oleh tetangga sebelah.

Di beberapa titik jalur perjalanan yang kita lewati jalan hanya cukup satu mobil dan itu ngga ada bonus space yang besar disisi kiri ataupun kanan. Jadi ketika mobil terguncang ke sebelah kiri rombongan yang berada disebelah kanan seirama berteriak “wooo” namun yang berada di sebelah kiri diam bisu seribu bahasa, lutut mereka lemas. Karena apa? Ya, kl salah satu ban mobil slip dan terperosok merekalah yang akan lebih dulu masuk jurang dan sebaliknya. Bahkan beberapa teman pendaki dari kota lain lebih memilih duduk dibawah dan menutupi kepala mereka dengan selendang. Sedangkan gw sendiri semakin lama melihat kebawah semakin parno saja pikiran. Sungguh, adrenalin benar-benar terpacu selama perjalanan ini.

Kurang lebih 6 kilometer dari Desa Ranupani “jeep” yang kita tumpangi tidak bisa meneruskan perjalanan ke pos Ranupane dikarenakan ada perbaikan jalan. Dan supir jeli betul tempat yang tepat untuk memanjakan kami para pendaki setelah selama kurang lebih 30 menit dibuat “shock” dengan perjalanan yang ekstrim. Disebelah kiri kami terbentang padang savanna yang begitu luas, yang dikelilingi bukit-bukit khas Bromo nan eksotis, bibir gw bergumam “subhanallah” beberapa kali. Tak kalah indahnya disebelah kanan menjulang Mahameru yang diselimuti awal tipis. Masterpiece Tuhan ucap gw dalam hati.

2013-10-05 16.19.04

(Padang Savana dan Perbukitan khas Bromo)

IMG_20131006_214613

Rombongan mulai terpisah karena tidak semua berniat mendaki ke puncak Mahameru, beberapa hanya ingin mengunjungi Bromo saja. Akhirnya gw dan keempat teman dari Bandung bergabung bersama pendaki dari Jogja dan Palembang. Dari tempat pemberhentian tersebut kami meneruskan perjalanan ke Ranupane menggunakan ojeg warga setempat.

Sampai di Ranupane Rawing ketua Tim gw dari Bandung langsung mengurus perizinan pendakian. Sebelum mulai perjalanan pendakian kami terlebih dulu bersih-bersih badan di toilet yang memang disediakan oleh TNBTS, dan makan siang di warung warga setempat. Di Ranupane lah semua pendaki memanfaatkan fasilitas toilet untuk terakhir kalinya sampai nanti selama pendakian para pendaki harus pintar-pintar memilih tempat buang air kecil dan besar yang nyaman. Walaupun sebenarnya keadaan toilet yang tersedia di pos Ranupane tidak begitu bersih. Ya, seperti itulah keadaannya. Dan sesuatu yang mengejutkan di pos Ranupane adalah airnya yang begitu dingin. Sebaiknya bagi para pendaki tidak langsung menyiram kepala (keramas) dengan air karena tubuh kita perlu adaptasi suhu. Ini terjadi pada Risya dan Wulan yang mulai terasa pusing sehabis mereka keramas. Loh, kenapa hanya Risya dan Wulan yang keramas? Mengapa kami bertiga, gw, Hamim, Rawing tidak? Entah apa yang mereka lakukan selama perjalanan tadi malam di kereta. Hanya mereka dan Tuhan yang mengetahui.🙂

Disela-sela makan siang dengan nasi Rawon dan sambal hejo kami melihat beberapa pendaki yang turun setelah mencapai puncak Mahameru.

“Puncak Mas?” Tanya Rawing kesalah satu pendaki.

“Ya, puncak mas. Baru mau naik?” jawab pendaki tsb sambil kembali bertanya pada kami.

Rawing sendiri cerita ke gw saat di kereta hari sebelumnya, kalo dia bergelut di dunia daki mendaki lebih dari 15 tahun. Dan baru 3 hari yang lalu dia turun puncak Rinjani-Mahameru dan hari ini kembali ke Mahameru. Gilakkk!!

Total untuk Mahameru Rawing sudah 3 kali dengan pendakian hari ini.

Tepat jam 1:00 siang gw memulai pendakian akbar sekaligus perdana ke puncak Mahameru. Tak henti-hentinya gw mengucap Bismillah sebelum melakukan perjalanan. Kami berpamitan lebih dulu pada teman pendaki dari Jogja dan Palembang.

“Monggo, kami menyusul” ucap mereka pada kami.

Sampai di Gapura selamat datang, gw disambut dengan trek menanjak dan tanah berdebu. Debu bertebangan karena langkah sepatu kami. Entah berapa ribu orang yang melakukan pendakian ke Mahameru semua bisa terlihat jelas dari tapak sepatu yang bertapak pada tanah berdebu sepanjang trek pendakian. Karena posisi gw berada di paling akhir dibelakang Rawing, Hamim, Wulan, Risya. Gw menutup sebagian wajah dengan baf.

IMG_20131006_213649

(Pintu masuk pendakian Gunung Semeru)

Rawing dan Hamim yang memimpin pendakian sedikit jauh meninggalkan Gw, Risya, dan Wulan. Kami keteteran menyeimbangi langkah dan fisik mereka yang memang gw akui lebih siap dengan pendakian ini. Rasanya jogging yang gw lakukan seminggu sekali selama 2 minggu belakangan ngga banyak membantu! Padahal carrier yang dibawa Rawing mungkin 2 kali lipat lebih berat dari yang gw bawa bahkan disebut kulkas. Bahkan selama pendakian ngga satupun gw temuin pendaki yang membawa carrier sebesar dan seberat yang dibawa Rawing. Salut!!!

Sekitar jam 2:15 kami sampai di pos pertama Landengan Dowo. Cuaca perlahan mulai berubah secara ekstrim menjadi berkabut, dan suhu udara mulai menurun cukup drastis. Di Landengan Dowo kita bertemu kembali dengan teman pendaki dari Jogja dan Palembang serta Jakarta yang baru bergabung. Jarak yang telah kita tempuh dari Ranupane sampai Landengan Dowo adalah 3km. Tanpa membuang-buang waktu kami melanjutkan pendakian ke pos selanjutnya ke Watu Rejeng dengan jarak 3km.

2013-10-02 14.00.05

(Pos pertama Landengan Dowo ketinggian ± 2300 mdpl)

Kali ini gw yang memimpin pendakian, setelah sebelumnya Rawing memberi arahan untuk mengikuti jalur pendakian yang telah ada/ditentukan. Trek yang gw lewati sekarang levelnya lebih sulit dari sebelumnya. Kalo dari Ranupane sampai Landengan Dowo beberapa trek sudah dibuat paping blok namun kali ini tidak ada sama sekali. Jalur pendakian pun semakin menyempit dan rawan longsor ditambah jurang yang sangat curam. Rawing sendiri memberi tahu gw kalo trek pendakian dari Ranupane sampai Ranukumbolo merupakan trek yang menjenuhkan. Kita hanya disuguhi lereng bukit/hutan belantara kemudian tanjakan, sedikit turunan dan kembali menemui tanjakan, dan tanjakan.

Terhitung beberapa kali kami melakukan peristirahatan sebelum sampai pada pos Watu Rejeng. Ini kami lakukan untuk menjaga stamina karena kami sadar betul kekuatan fisik yang kami miliki terutama gw, Risya, dan Wulan yang seorang perempuan.

2013-10-02 15.28.36 2013-10-02 15.34.03

(Pos ke-dua Watu Rejeng atau dalam bahasa Indonesia berarti Batu berjajar. Kondisi Watu Rejeng saat itu sudah mulai berkabut)

Setelah hampir menulusuri jalan setapak hampir 1:40 jam kami tiba di pos Watu Rejeng yang di dominasi lereng berbatu. Suara burung penghuni hutan seakan-akan menyalami kami para pendaki yang baru saja sampai disana dengan suaranya silih bergantian. Buat gw pribadi ini sedikit menyeramkan karena cuaca saat itu berkabut cukup tebal. Di Watu Rejeng handphone gw sempat menerima pesan singkat. Gw kira suara dering handphone tersebut karena suara notif lowbat karena gw lupa merubah mode menjadi flight mode. Ternyata pesan masuk dari Ibu yang pesannya berupa “udah sampai dimana?”

Jam menunjukan jam 4:10 dan kami mulai kembali melanjutkan pendakian dari Watu Rejeng menuju Ranu Kumbolo yang akan kita tempuh sepanjang 4.5km. Rencananya di Ranukumbolo kami akan menginap semalam dan melanjutkan pendakian keesokan harinya. Karena hari mulai beranjak petang akhirnya Rawing berinisiatif mempercepat sampai Ranu Kumbolo dan memimpin pendakian.

Maju sedikit dari pos Watu Rejeng kami disuguhkan dengan trek menanjak berdebu dengan tingkat kemiringan kurang lebih 75 derajat sepanjang kurang lebih mencapai 200 meter. Gw sempat tanya ke Rawing tanjakan apa ini namanya? Rawing cuma geleng-geleng kepala tanda tidak mengetahui. “yang jelas leleus we pokona” jawabnya dengan aksen sunda.

Tapi selesai mendaki tanjakan tersebut gw mendapatkan bonus berupa pemandangan hamparan awan dan landscape hutan yang eksotik ditambah samar-samar sinar matahari sore yang menembus pepohonan mengenai wajah. Sebenarnya cuaca diatas cukup cerah, karena ketika dibawah saja sinar matahari terhalang awan tebal dan kabut sehingga seakan-akan cuaca memang mendung. Setelah berhenti sejenak menikmati suguhan alam kami melanjutkan pendakian. Tapi tak berapa lama berjalan tangan gw mulai kedinginan, gw tetap coba menggerakan dan menggosokkan kedua tangan agar tetap hangat namun tetap tidak berhasil. Sampai pada akhirnya gw mengeluarkan sarung tangan dan memakainya.

IMG_20131002_203105

(Pemandangan setelah tanjakan tak jauh dari Watu Rejeng. Negeri diatas awan!)

Sejam melakukan perjalanan dari arah depan terdengar suara Rawing berteriak “Jon, selamat datang di Ranu Kumbolo”. Mendengar ucapan Rawing segera gw menambah speed langkah dan tidak sabar melihat penampakan Ranu Kumbolo yang sudah tersohor keindahannya. Dari balik pepohonan gw coba mencuri pandangan ke arah yang lebih jauh kedepan. Tak sabar rasanya melihat Ranu Kumbolo. Hampir 5 jam sudah gw mendaki dari Ranupane sampai di titik gw berdiri pada saat itu gw berhenti sejenak dan menarik nafas, gw dapet salam dari Ranukumbolo dan sunsetnya! Ini baru menu pembuka, gimana menu utamanya, pikir gw saat itu. Anehnya setelah melihat Ranukumbolo beban carrier dipundak tak begitu terasa berat lagi. Karena memang trek mulai menurun mendekati Ranukumbolo. Menuruni bukit Ranukumbolo Risya menawarkan diri untuk membawakan “kulkas” yang Rawing bawa dan Rawing membawa carrier kepunyaannya.

2013-10-02 17.29.29

(Tepat jam 6 sore gw dan teman-teman sampai di Ranukumbolo ketinggian ± 2400 mdpl. Kami disambut oleh kabut yang mulai menutupi Ranukumbolo sore itu)

Tanpa pikir panjang Rawing menyetujui tawaran tersebut. Dan tahu apa yang terjadi 5 menit kemudian? Rawing meninggalkan Risya jauh dibelakang. Dan pada akhirnya Hamim lah yang menjadi korbannya untuk membawa “kulkas” tersebut. Dari atas bukit gw sama Rawing tertawa melihat Risya dan Hamim yang saling melempar tanggung jawab untuk menggendong “kulkas” jahanam tersebut.🙂

Di Ranukumbolo gw dan yang lain disapa oleh para pendaki lain yang telah mendirikan tenda. Kami pun menyapa kembali dengan akrab ditambah senyuman hangat. Tepat jam 6 kami tiba di camp Ranukumbolo dan segera mendirikan tenda. Total kami menggunakan 2 tenda. Satu tenda untuk tempat menyimpan carrier/ransel dan satu tenda lagi untuk tempat kami tidur. Saat mendirikan tenda semua merasakan menggigil termasuk Rawing yang selama perjalanan tidak pernah mengeluh, dan sedikit terjadi kepanikan karena salah satu dari kami salah mengingatkan tali pada tiang penyangga tenda. Setelah tenda tegak berdiri gw dengan sigap langsung mengambil posisi di dalam tenda dan mengganti baju baru dan memakai beanie.

Semakin malam camp Ranukumbolo semakin ramai akan kehadiran para pendaki baik yang baru hadir untuk mendaki atau yang baru turun dari puncak. Malam itu didalam tenda sambil menyiapkan makan malam berupa omlet kami membicarakan perjalanan pendakian selama kurang lebih 5 jam yang baru saja kami selesaikan. Gelak tawa mewarnai malam di Ranukumbolo kehangatan kebersamaan begitu terasa walaupun gw baru beberapa hari mengenal sosok Rawing, Hamim dan Wulan. Ketika Rawing, Risya, Hamim mendapatkan “kenikmatan” dengan caranya mereka yaitu meneguk segelas kopi hitam dan sebatang rokok Marlboro. Gw hanya meminta dibuatkan Energen bungkus ijo (kacang ijo) dan inilah yang di kemudian hari menjadi ciri khas gw dan menjadi ledekan teman-teman.🙂

Suhu di Ranukumbolo semakin dingin di malam hari, entah berapa suhu udara saat itu yang jelas jaket dan tambahan sleeping bag tak cukup menahan rasa menggigil kedinginan yang kami rasakan. Setelah selesai makan kami pun segera beristirahat untuk tetap menjaga kondisi stamina tubuh. Sebelum tidur gw sempat memutar satu lagu hasil men-download saat di perjalanan hari sebelumnya. Bisa dibilang ini lagu wajib yang harus didengarkan oleh pendaki yang akan mendaki Mahameru.🙂

Sebuah lagu lawas dari Dewa 19 – Mahameru menjadi lagu penghantar tidur kami malam itu. Perfect!

***

Kamis, 3 Okt 2013

Sesaat setelah terbangun karena kedinginan, gw melihat layar jam tangan Eiger yang gw pake di tangan kiri. Jam menunjukan pukul 1:32. Entah minus atau tidak yang jelas suhu pagi dini hari itu semakin dingin dibanding sebelumnya. Banyak teman pendaki yang bilang ketika musim kemarau suhu udara Ranukumbolo di malam hari akan lebih dingin dari musim penghujan bahkan apabila mencapai ekstrimnya akan menurunkan butiran-butiran es. Merasa penasaran gw pun mengeluarkan tangan dari dalam sleeping bag dan menempelkannya ke bagian tenda. Ternyata embun telah tembus ke dalam tenda bagian dalam. “Pantes tiris” ucap gw dalam hati. Dan pagi itu Rawing pun ikut terbangun karena mulai merasakan pilek pada hidungnya.

“Kenapa Mas?” Tanya gw pada Rawing yang tampaknya mulai gelisah.

“Teu nanaon. Lanjut Jon” Jawabnya santai.

Sebelum kembali tidur gw pun menyilahkan Rawing untuk meminum obat-obatan seadanya yg gw bawa apabila memang dibutuhkan.

***

Tidak seperti pagi-pagi biasanya ketika melangkahkan kaki keluar dari dalam tenda gw disambut oleh pemandangan yang memanjakan mata. Gw telat untuk melihat sunrise di Ranukumbolo, tak apa pikir gw karena pemandangan saat itu tetap indah.

_MG_2177 2013-10-05 07.33.34

(Suasana pagi hari di Ranukumbolo hari pertama)

Lihat cahaya matahari yang dipantulkan oleh air, udara yang bersih, perbukitan yang mengelilingi danau yang ditumbuhi pepohonan yang didominasi oleh cemara. Langit yang biru, dan kicauan beberapa burung menambah kesempurnaan yang dimiliki Ranukumbolo. Best day ever!🙂

Tak ingin terbuai dengan keindahan Ranukumbolo kami segera menyiapkan sarapan pagi dan mengambil air dari Ranukumbolo untuk perjalanan ke Kalimati. Menu sarapan pagi itu adalah sayur sop dan beberapa sisa omlet tadi malam ditambah kerupuk dan tempe goreng. Sikattt…

2013-10-03 15.37.17

(Rasanya masakan apa saja terasa nikmat ketika sedang berkemah seperti ini)

_MG_2431

(Memanfaatkan air dari Ranukumbolo untuk makan & minum selama perjalanan)

Sekitar jam 12 siang kami melanjutkan perjalanan. Estimasi waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam untuk sampai di camp Kalimati. Teman pendaki dari Jogja, Palembang dan Jakarta yang dari hari sebelumnya bersama-sama kami saat pendakian ternyata lebih dulu berangkat. Tak lama baru kami menyusul. Dan inilah saat yang gw tunggu, mendaki bukit tanjakan cinta. Bukit ini disebut tanjakan cinta karena memang bentuknya yang terlihat melambangkan love (hati). Konon apabila mendaki bukit ini tanpa melihat ke belakang sampai puncak dan memikirkan seseorang maka pada suatu hari orang yang kita pikirkan akan menjadi jodoh.

2013-10-03 10.41.37

(Tanjakan Cinta)

Entah kenapa ketika saat akan mendaki yang ada dipikiran gw hanya ada Medina Kamil. Haha…

Bismillah. Gw pun mulai mendaki. Mungkin karena terlalu bersemangat gw orang yang pertama sampai di atas bukit.🙂

Sampai diatas bukit gw mendapat surprise dari TNBTS, dengan napas yang masih terengah-engah. Gw melangkah maju sampai menemukan ceruk pada tanah dan terduduk takjub melihat hamparan padang savana dari atas bukit (sambil mendengarkan lagu coldplay Every teardrop Is a Waterfall & Paradise).

2013-10-03 10.57.48  2013-10-04 16.11.10

(Pemandangan dari atas bukit setelah melewati tanjakan cinta)

Jauh ke depan gw melihat bukit dan dibalik bukit tersebut terlihat puncak Mahameru yang menjulang tinggi. Gw yang terduduk lemas di cerukan tanah tiba-tiba merasakan rasa teduh seolah-olah diatas kepala ada yang memayungi. Ternyata rasa teduh tersebut disebabkan oleh awan yang tepat melintas diatas kepala gw. Bahagia!

 _MG_2237 IMG_20131013_210837

(Melewati Savana-Oro-oro Ombo sebelum sampai di Cemoro Kandang)

Kami pun melanjutkan perjalanan dan menuruni bukit untuk melewati savanna dengan ilalang berukuran tinggi. Sayang ilalang saat itu kering kerontang karena panas akibat musim kemarau. Pada musim penghujan ilalang akan berwarna hijau dan menampilkan bunga berwarna ungu. Tapi walaupun ilalang sedang kering kerontang tetap keren sih, seolah-olah menampilkan efek kalo kita sedang berada di kawasan Afrika untuk behind the scene National Geographic.🙂

Melewati savana yang cukup luas kami bersitirahat sejenak di Cemoro Kandang. Duduk di batang besar cemara yang telah tumbang secara alami.

WarnaHikari_16920

a

IMG_20131013_212356  IMG_20131013_212210

(Cemoro Kandang. Sometimes it’s just the simple things in life)

Gw pun sedikit bertanya pada Rawing sedikit gambaran trek seperti apa yang akan kita lewati ke depan. “yang jelas trek ke depan ngga akan sejenuh seperti trek dari Ranupane ke Ranukumbolo. Enjoy!” ucap Rawing sembari diakhiri senyuman.

“Gw duluan kalo gitu” sambil melangkah meninggalkan teman-teman yang masih duduk diatas pohon cemara yang telah tumbang.

“Ikutin trek Jon!” ucap Rawing mengingatkan.

Di perjalanan gw bertemu teman-teman pendaki dari kota lain, dan beberapa porter. Dan saling sapa “Mari Mas, Mba” mungkin sebuah kebiasaan yang dilakukan setiap pendaki apabila berpasasan dengan pendaki lainnya. Dan satu lagi yang gw sukai dari pendakian ini adalah saling memberi jalan antara pendaki satu dan yang lainnya. Entah itu turis local ataupun mancanegara, seolah-olah chemistry kami telah terbentuk sejak lama. Kami bagaikan sahabat, saling meminta air minum, berbagi cerita, mendaki bersama walaupun baru bertemu.

Lagi-lagi akibat terlalu bersemangat, gw terlalu jauh meninggalkan ke-empat teman dibelakang. Akhirnya gw memutuskan istirahat tepat dibawah pohon cemara sambil menunggu teman-teman datang. Hanya ditemani suara gemuruh angin yang mengenai daun dan ranting-ranting pohon cemara, juga sesekali suara kicauan burung, sungguh memanjakan diri. Melupakan sejenak rutinitas kehidupan yang gw jalani. Saking menikmatinya suasana Cemoro Kandang tanpa terasa mata gw mulai terpejam dan kemudian terdengar suara “mari Mas” ucap seorang pendaki yang memergoki gw mulai terlelap.🙂

2013-10-03 11.57.04

Sekitar satu jam kemudian sampailah kami di Jambangan. Semakin dekat saja gw dengan puncak Mahameru. Tanpa membuang waktu kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju camp Kalimati.

2013-10-03 13.08.57

Tak butuh lama perjalanan karena trek yang dilalui menurun. Kurang lebih kami sampai di Kalimati sekitar jam 3:25. Memasuki camp Kalimati gw merasakan suasana tegang. Entah mengapa. Sejujurnya, pemandangan di Kalimati tak kalah indahnya seperti Ranukumbolo, Edelweiss tumbuh cukup banyak disini. Kali ini gw benar-benar speechless dan berdiri terpaku melihat puncak Mahameru tepat di depan mata. Struktur permukaannya yang keseluruhan di dominasi pasir dan bebatuan membuat nyali gw mulai ciut. Beberapa jam kemudian gw akan mendaki sebuah puncak tertinggi di Pulau Jawa. Dalam hati pun bertanya “apa gw sanggup?”

2013-10-03 13.38.38  2013-10-03 13.39.41

 IMG_20131012_222753 _MG_2277

(puncak Mahameru dari camp Kalimati)

Sambil melangkah maju mengikuti langkah teman-teman, pikiran gw melayang jauh didominasi pikiran negative. Teringat akan semua korban yang menjadi keganasan Mahameru. Salah satunya Soe Hok Gie yang meninggal karena menghirup asap beracun yang disemburkan Gunung Semeru.

Sebenarnya gw dan teman-teman pendaki lainnya merupakan pendaki illegal apabila benar-benar memutuskan untuk tetap mendaki puncak Mahameru. Untuk diketahui bahwa sesungguhnya pihak TNBTS hanya memberikan izin pendakian sampai camp Kalimati. Entah sejak kapan tepatnya TNBTS memberlakukan larangan mendaki puncak Mahameru yang jelas pihak TNBTS telah memberikan larangan pada setiap pendaki untuk mendaki puncak Mahameru dan tidak akan bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu pada saat pendakian.

Rawing pernah bilang ke gw seperti ini saat di kereta “Ngga semua orang bisa sampai ke puncak Mahameru, mental & kesabaran kita benar-benar diuji nanti. Dan ingat kita juga sebagai tamu disini alangkah baiknya kita paham sopan santun kala bertamu”. Terdengar sedikit mistis memang tapi gw paham arah pembicaraan Rawing kala itu.🙂

Tak lama setelah sampai camp Kalimati gw, Risya, dan Wulan mempunyai tugas mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Sementara Rawing dan Hamim mencari air untuk menambah persediaan. Camp Kalimati sore itu tidak terlalu ramai karena sebagian pendaki mulai turun ke Ranukumbolo. Hanya tim gw dan teman pendaki dari Jogja, Palembang dan Jakarta yang sejak dari hari pertama bersama2 dengan kami. Namun sekitar jam 4:35 beberapa rombongan pendaki dari Perancis yang kurang lebih berjumlah 13 orang mulai merapat ke camp Kalimati diikuti beberapa pendaki lokal lainnya yang tak begitu banyak jumlahnya.

Semakin sore angin di kawasan Kalimati semakin kencang, suara gemuruh pohon cemara yang terkena hempasan angin semakin terdengar keras. Suhu udara pun perlahan mulai menurun. Gw pun segera mengganti baju dan memakai t-shirt, flannel, dan jaket ditambah kupluk dan sarung tangan.

2013-10-03 17.02.35

(Suasana menjelang sunset di Kalimati)

Sungguh indah sore di Kalimati, menikmati sunset dengan pemandangan Edelweiss yang tumbuh di sebuah hamparan tanah yang cukup luas, memandangi puncak Mahameru dari jarak yang sangat dekat membuat gw melupakan rasa lelah perjalanan yang telah dilalui.

2013-10-03 13.47.18 _MG_2284

Saking menikmati suasana sunset pendaki dari Perancis bahkan bersantai sambil membaca buku, berdansa diiringi lagu dari Jessie J feat B.O.B – Price Tag. Best day ever!

_MG_2280 _MG_2281

(Pendaki dari Perancis menikmati suasana sunset di Kalimati)

Merasa tidak nyaman akan cairan yang terus menerus keluar dari hidung gw pun berinisiatif menempelkan koyo pada hidung dan segera merapat ke dalam tenda untuk menyudahi menikmati sunset. Ya, gw terus terus menerus meler akibat kedingininan sore itu.🙂

Setelah selesai makan malam kami berlima menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa untuk mendaki. Headlamp, makanan ringan, baju hangat, sampai raincoat dipersiapkan malam itu. Bukannya langsung istirahat tidur kami malah ngalor ngidul di dalam tenda. Padahal tenda sebelah teman kami dari Jogja & Palembang sudah lebih dulu beristirahat.

Sebelum tidur gw meminta tolong Rawing untuk dilihati dari bibir pintu tenda untuk buang air kecil (kencing). Hembusan angin mulai menampar wajah gw saat keluar dari dalam tenda. Gw mendekati pohon yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tenda untuk buang air kecil disana. Biasanya untuk buang air memang dianjurkan di semak belukar, tapi karena beberapa pertimbangan akhirnya gw memutuskan untuk buang air di balik pohon.🙂

Nampaknya sudah tidak ada aktivitas lagi yang dilakukan oleh teman-teman pendaki dari Perancis tak ada suara musik lagi hanya beberapa porter sewaan yang masih menikmati api unggun. Teman kami dari Jogja, Palembang dan Jakarta pun sama tak ada cahaya ataupun aktivitas yang terlihat dari dalam tenda mereka.

Di Kalimati, sebelum kami beristirahat kami melakukan “ritual” yang sama seperti malam sebelumnya di Ranukumbolo. Mendengarkan lagu Dewa 19 – Mahameru.

“Mendaki melintas bukit Berjalan letih menahan berat beban Bertahan di dalam dingin Berselimut kabut Ranu Kumbolo…

Menatap jalan setapak Bertanya – tanya sampai kapankah berakhir Mereguk nikmat coklat susu Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda Bersama sahabat mencari damai Mengasah pribadi mengukir cinta. Mahameru berikan damainya Di dalam beku Arcapada Mahameru sebuah legenda tersisa Puncak abadi para dewa…

Masihkah terbersit asa Anak cucuku mencumbui pasirnya Disana nyalimu teruji Oleh ganas cengkraman hutan rimba Bersama sahabat mencari damai Mengasah pribadi mengukir cinta. Bersama sahabat mencari damai Mengasah pribadi mengukir cinta. 

Mahameru berikan damainya Didalam beku Arcapada Mahameru sampaikan sejuk embun hati Mahameru basahi jiwaku yang kering Mahameru sadarkan angkuhnya manusia Puncak abadi para dewa…”

Ini seperti nasional anthem bagi gw dan teman-teman. Khususnya bagi gw yang merasakan ketegangan yang luar biasa malam itu. Kurang dari 4 jam lagi gw akan segera mendaki puncak tertinggi di Pulau Jawa. Sempat beberapa kali gw merinding saat mendengarkan lagu Mahameru. Ini merupakan soundtrack yang tepat selain 2 lagu Coldplay sebelumnya!

***

Jumat, 4 Okt 2013

Tepat jam 12:00 alarm smartphone kami berdering serentak. Gw segera mencari headlamp untuk penerangan. Kami punya waktu kurang lebih satu jam untuk mempersiapkan perlengakapan untuk mendaki. Melihat tenda yang bergoyang lebih keras karena terpaan angin gw pun berinisiatif mengeluarkan semua stok baju yang gw bawa dari dalam tas kecil. Sejujurnya malam di Kalimati tidak lebih dingin dari malam sebelumnya di Ranukumbolo. Kalo gw boleh bilang dingin di Kalimati lebih kepada angin yang memang berhempus cukup kencang.

Karena terprovokasi oleh Wulan yang memakai baju yang berlapis-lapis gw pun akhirnya terdikte pula.

Lapisan pertama gw memakai tshirt hitam polos, lapisan kedua gw memakai raglan lengan panjang berwarna hijau, memakai flannel motif kotak-kotak warna biru, kemudian sweater (hoodie) warna cokelat, jaket warna hitam yang gw pakai di hari pertama pendakian, dan terakhir raincoat army warna hijau. Untuk kebawahannya gw pake boxer, celana skinny jeans, raincoat, + double socks! Haha..

Tak lupa gw memakai kupluk, sal, buf, sarung tangan dan headlamp.

Gw pun membawa perlengakapan pribadi seperti obat-obatan, oksigen, makanan, air, yang ditaruh ke dalam tas gendong kecil.

Setelah semuanya siap, kami berempat berkumpul sejenak di depan tenda dan mendapat sedikit arahan dari Rawing. Sementara itu selama kami briefing kami melihat 2 pendaki mulai berjalan ke arah trek pendakian. Tapi tak demikian dengan tenda sebelah kami pendaki dari Jogja dan Palembang yang belum menunjukan aktivitas apapun.

Sebelum melakukan pendakian kami berdoa bersama sejenak meminta diberi perlindungan, dan keselamatan sampai puncak hingga turun kembali. Doa selesai. Dipimpin Rawing dibarisan paling depan kami pun memulai pendakian tepat jam 1:00 pagi dini hari.

Gw ada dibarisan paling belakang pagi itu. Angin memang menjadi musuh baru buat gw pagi itu selain debu yang tetap masih mendominasi. Baru saja memasuki trek tanjakan dari kaki gunung kacamata gw mulai berembun dan berdebu. Gw coba sedikit menurunkan buf yang gw pakai dan sesekali membersihkan lensa kacamata. Namun tetap saja kacamata kembali berembun dan berdebu. Debu memang lebih tebal dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Ditengah perjalanan akhirnya gw melepaskan kacamata yg gw pakai dan menitipkannya di tas Risya.

Total jarak yang kami tempuh dari Kalimati sampai Puncak Mahameru adalah 2.7km. Tidak terlalu panjang memang namun trek pendakian jauh lebih berat dari sebelumnya dengan tingkat kemiringan 65 derajat. Udara yang dingin, dengan pencahayaan seadanya dari headlamp yang kami pakai serta jalan setapak yang merupakan tanah vulkanik membuat pendakian semakin menantang.

Sesekali Rawing menyarankan gw untuk tetap mengatur tempo/ritme langkah. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan 2 orang teman dari Malang yang kami lihat sebelumnya di Kalimati. Mereka pun ikut bergabung dengan tim kami.

Sampai di Arcopodo gw melihat  beberapa plakat in memoriam untuk mengenang beberapa pendaki yang meninggal saat melakukan pendakian ke puncak Mahameru. Selang 10 menit berjalan dari Arcopodo gw benar-benar merasakan cape yang luar biasa ditambah rasa mual. Gw berhenti sejenak. Dan bertanya pada diri sendiri “apa gw balik aja gitu ya? Biarin gw turun lagi, nunggu di tenda sampe mereka balik.” Walaupun sebenarnya gw dihinggapi rasa takut juga apabila harus turun sendiri ke camp Kalimati seorang diri.🙂

Dengan nafas yang terengah-engah gw melanjutkan pendakian menelusuri jalan menanjak berdebu ciri khas tanah vulkanik, disertai udara dingin dengan pencahayaan seadanya membuat pendakian semakin menantang.

Gw sebenarnya sudah ingin berteriak meminta pertolongan pada Risya yang ada 15 meter di depan gw. Tapi entah rasa gengsi masih menghinggapi gw saat itu. Tak lama kemudian gw pun benar-benar muntah cukup banyak, sambil memegang pohon cemara gw mengucapkan kata-kata sumpah serapah. Hampir sekitar 2 menit gw terdiam kelelehan sendirian di tengah-tengah hutan kaki gunung Mahameru sampai terdengar suara dari Rawing “Jon?” gw pun tersadar dan kembali berjalan setapak demi setapak.

100 meter keatas ternyata tim berhenti istirahat sambil menunggu gw yang tertinggal jauh dibelakang. “Masih sanggup Jon?”. Tak mau kalah begitu saja gw pun menjawab dengan nada lemas “ayo” dan ditutup dengan tawaan Rawing.

Sebelum melanjutkan perjalanan Wulan kemudian memberitahu Rawing kalo dirinya mulai merasakan mual. Rawing tak banyak komentar hanya menyuruh Wulan untuk memuntahkannya saja.

Seumur-umur gw di fisik berat saat latihan basket belum pernah gw merasakan mual bahkan sampai muntah sekalipun. Kata pelatih basket gw saat di SMP, SMA, apabila seseorang telah muntah saat dilatih fisik maka orang tersebut fisiknya akan kembali ke titik nol dan fit kembali. Dan itu yang gw rasakan setelah muntah tadi, gw kembali fresh walaupun rasa lelah  masih tetap terasa.

Setelah 20 menit mendaki, tibalah kami di batas vegetasi antara pohon cemara dan pasir/bebatuan menuju puncak. Disini para pendaki harus benar-benar fokus dan ekstra hati-hati saat berjalan karena jalan setapak hanya bisa dilewati untuk satu orang saja dan disamping kiri kanannya merupakan jurang terjal. Terpeleset sedikit, nyawa taruhannya. Di kawasan batas vegetasi inilah banyak pendaki yang tersesat.

Gw merasakan langkah kaki terasa lebih berat karena tekstur pasir dan bebatuan vulkanik. Dari titik inilah apabila ditarik garis lurus kurang lebih tinggal 700 meter lagi gw mencapai puncak Mahameru. Risya dan Hamim meninggalkan kami bertiga cukup jauh diatas. Gw melihat jam yang ada ditangan kiri. Jam menunjukan pukul 3:10 pagi. Gw mulai cerewet disini ke Rawing. Sedikit-sedikit menanyakan apakah sudah setengah perjalanan sampai puncak? Atau lelucon bodoh berapa lama lagi kita sampai?

Rawing hanya menjawab, “udah jalani aja. Kalo banyak diem & nanya makin lama”. Brengkes memang Rawing pagi itu.🙂

Setelah melewati batas vegetasi Rawing benar-benar luar biasa, dia menarik Wulan yang sudah tidak berdaya untuk tetap mendaki. Ini diluar kebiasaan yang dilakukan oleh para porter yang membantu turis/pendaki pada saat kelelahan mendaki. Porter melakukannya dengan cara mendorong tapi Rawing melakukannya dengan cara menarik. Brengkes memang beliau ini!

WarnaHikari_16892

(Rawing sang photographer & Leader)

Kaki kanan gw mulai terasa kelelahan karena lebih sering dijadikan tumpuan. Gw kembali merengek kepada Rawing. Tapi kali ini Rawing tak menghiraukan karena lebih fokus bagaimana caranya membawa Wulan sampai ke Puncak.

Rawing pun mulai kembali bicara dengan gw ketika dia memberi tahukan kalo posisi kita sudah sampai di tengah perjalanan. Tapi semangat gw ngga berlangsung lama karena gw sudah benar-benar kelelahan dan tertinggal jauh dari teman-teman.

Semakin lama mendaki angin yang berhembus semakin kencang, ini salah satu yang gw takutkan dalam pendakian pagi dini hari tersebut. Gw pun ngga terlalu berani berdiri lebih tegak pada saat mendaki karena bisa saja angin menyeret gw dan menghempaskan badan yang mulai lunglai ini. Untuk pertama kalinya gw memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, melihat sudah sejauh mana gw mendaki.

Tepat dibawah sana gw melihat cahaya-cahaya kecil bergerak dari headlamp yang dipakai para pendaki.

Beberapa pendaki dari Perancis didampingi porter mulai mendahului gw yang terkulai lemah dengan posisi terduduk dipasir bebatuan. Rasanya ingin kembali ke camp dan tidak melanjutkan pendakian. Cukup sampe sini saja. Ucap gw bekali-kali di dalam hati. Setiap kali berhenti beristirahat dan minum itulah saat-saat yang nikmat. Dan entah bagaimana air yang gw bawa bisa menjadi sebegitu dinginnya seperti air es.

Waktu semakin pagi namun gw terus bertanya-tanya sampai kapan gw mendaki, dimana ujung puncak Mahameru berada?

Di sebelah kanan dari posisi gw duduk cahaya berwarna orange mulai terlihat membentuk horison. Masih dengan keadaan terkulai lemah gw menikmati moment tersebut. Rasa letih membuat gw ingin tertidur sejenak. “okay, gw ngga turun ke camp, gw nunggu disini aja sampe kalian turun” ucap gw konyol yang sudah merasakan kantuk yang tak tertahankan. Disitu pula gw melepas sepatu yg gw pakai karena pasir telah memenuhi bagian dalam sepatu.

2013-10-04 04.47.18

(Best early morning ever!)

Teringat akan sebuah judul lagu dari Van Hallen – Finish what ya Started. Dan kemudian membayangkan ketika kembali ke Bandung, beberapa teman bertanya “gimana sampe ke summit? (Mahameru)”. Dan yang lebih menggelikan adalah bagaimana gw akan menjadi bahan bullying ke-empat teman gw nanti ketika sampe tenda.

Ini benar-benar masa-masa sulit dalam pendakian, dengan kondisi fisik yang sangat lemah gw mulai merasakan frustasi. Karena setiap kali gw melangkah, langkah gw kembali turun dua langkah. Selain itu ketika gw membuat suatu tumpuan pada satu kaki maka pasir segera menimbun kaki gw dengan cepat. Kembali gw terhenti dan memikirkan cara yang tepat untuk mendaki agar tidak terlalu menguras tenaga.

Doraemon! Ya, gw butuh doraemon sekarang! Ucap gw menghibur diri! Gw kembali mendaki setapak demi setapak jig-jag. Ini hanya masalah waktu, tak peduli akan sampai jam berapa di puncak nanti yang jelas gw harus tetap mendaki.

Dibantu dengan potongan kayu sepanjang 60cm yang gw temui di jalur pendakian gw terus tetap bersabar mendaki dengan rasa was-was karena sesekali batu berukuran sekepal tangan turun dengan cepat tepat dari atas jalur pendakian.

Jam 4:30 perlahan mentari mulai mengeluarkan sinarnya, gw pun melihat jam dan menargetkan sampai puncak tepat pada jam 6. Luar biasa sensasi pagi itu, awan mulai terlihat jelas berjalan dihadapan gw. Ya, tepat dihadapan gw, bahkan ada dibawah gw.

Jam 5:30 beberapa pendaki dari Perancis di pimpin porter lokal mulai turun. Porter mempersilahkan gw untuk melanjutkan pendakian namun gw lebih suka memberi space jalan kepada mereka terlebih dulu. “sebentar lagi mas, hanya sekitar 300 meter sampe kok ke puncak. Ya, paling 15-20 menit” ucap porter yang memberi harapan.🙂

Kemudian mereka semua turun melewati gw sampai pada satu pendaki berhenti yang melihat gw dengan rasa iba.

“Where you come from?” tanya gw dengan suara terbata-bata. “France”

“Spain?” gw kembali bertanya karena suara bule tersebut tidak terdengar oleh suara angin yang begitu kencang.

“France” ucapnya lebih keras. “and you?”

“I’m local tourist. From Bandung, West Java”

“Aha, are you going to the summit?” nampaknya si bule meremehkan kemampuan gw, kampret!

“ya, sure. It’s a must!” jawab gw dengan nada tinggi. Si bule pun hanya mengangguk-angguk.

“okay, good luck” ucapnya serasa turun meninggalkan gw. Ketika membalikan badan melihat si bule turun. “God, udah jauh juga gw mendaki” gw mulai memikirkan bagaimana nanti turunnya, ternyata ketika keadaan terang benderang gw bisa melihat dengan jelas trek yang gw lalui, sangat curam, orang-orang begitu kecil dibawah gw, seperti berada diatap langit. Melihat disekitar pun hanya pasir hitam dan bebatuan raksasa.

Ditengah perjalanan gw melihat tongkat kayu sepanjang  kurang lebih 120cm dan langsung saja gw mengganti tongkat dengan yang baru. Seseorang meneriaki gw dari atas puncak. “Ayo Mas, sebentar lagi sampe puncak” berulang-ulang dia berteriak. Jelas saja motivasi gw terpacu untuk cepat sampai ke puncak. Kali ini gw mulai mendaki dengan posisi badan lebih tegak karena merasa terbantu dengan tongkat baru.

Tepat jam 6.20 gw sampe di puncak tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru 3676 meter diatas permukaan laut. Dengan langkah kecil gw berjalan mencari teman-teman yang lebih dulu sampai. Akhirnya pendakian hampir selama 5 jam lebih membuahkan hasil. Rasa bangga pada diri sendiri gw rasakan saat itu, sedikit rasa haru ketika Risya menghampiri gw dan membawa ke sisi sebelah Barat puncak. Posisi matahari sejajar dengan kami tak jauh dari situ Bendera Merah Putih berkibar dengan gagahnya dan tulisan kecil berada dibawahnya Mahameru 3676 mdpl.

_MG_2318

(Seorang diri dengan langkah yang masih sempoyongan sesaat setelah sampai di puncak Mahameru)

Masih dengan rasa suka cita gw tersenyum kecil masih merasakan rasa ketidakpercayaan kalo gw berada di puncak Mahameru. tidak sia-sia melihat seluruh pakaian yang lusuh, kotor akibat perjalanan pendakian. Wajah yang dikotor terkena pasir, hidung yang terus mengeluarkan ingus karena kedinginan tak lagi gw dan teman-teman hiraukan. Lalu gw membayangkan bagaimana dan dari mana gw akan menceritakan semua perjalanan pendakian ini pada teman-teman di Bandung nanti?🙂

IMG_20131006_212647

(From where i stand. Mahameru 3676 mAsl)

Sungguh kami menikmati moment-moment tersebut. Diatas puncak kami berbagi makanan dan minuman ke sesama pendaki lainnya.

Disinilah momen dimana gw merasakan kenikmatan tiada tara saat meminum Nutrisari. Ngga pernah gw merasakan Nutrisari senikmat itu. Hanya di Mahameru!

Setelah menikmati dua lembar roti tawar yang diolesi madu, kemudian gw berkeliling puncak. Sejauh mata memandang gw disuguhi pemandangan yang menakjubkan maha karya Tuhan. Masterpiece!

Karena angin yang sangat keras berhempus pagi itu kami pun memutuskan turun. Hanya sekitar 30 menit kami diatas puncak, itupun kami lebih sering berlindung dibalik batu besar. Sebelum meninggalkan puncak kami dihadiahi bonus berupa letupan wedus gembel  dari kawah Jonggring Saloko yang masih aktif disertai dentuman yang keras menyerupai suara meriam.

_MG_2341    _MG_2352 _MG_2344

(Letupan wedus gembel  dari kawah Jonggring Saloko yang berada tak jauh dari puncak Mahameru)

Sontak semua pendaki kegirangan melihat momen langka ini, karena letupan wedus gembel yang kami lihat sungguh sangat besar. Walaupun sebenarnya ini sangat berbahaya bagi kami karena bisa saja arah angin tiba-tiba berubah dan wedus gembel mengenai kami semua, tapi kami tetap mengabadikan momen tersebut. Akhirnya perpisahan dengan puncak Mahameru tak bisa ditawar lagi, kami segera turun karena keadaan diatas puncak pun semakin tidak memungkinkan akibat angin yang berhembus semakin kencang.

Tak ada rasa takut pada saat menuruni pasir bebatuan dari puncak seperti yang gw rasakan saat mendaki. Teringat akan cerita teman pada saat menuruni puncak Mahameru yang menggunakan kaki bagian tumit sebagai tumpuan. Gw pun mengikuti cara tersebut dengan cara melepaskan beban badan ke arah belakang. Gw pun seolah-olah berlari menuruni pasir bebatuan Mahameru.

2013-10-04 07.35.53

(Tekstur tanah & bebatuan vulkanik mulai dari batas Vegetasi sampai dengan puncak Mahameru)

Hanya butuh sekitar 20 menit dan sekali istirahat untuk sampai di batas vegetasi. Di batas vegetasi gw sudah ditunggu Rawing dan Hamim. Sambil menunggu Wulan dan Risya gw melihat jurang dibatas vegetasi yang semalam gw lewati. Sangat curam ternyata, salah langkah sedikit saja bisa berakibat fatal.

Menulusuri dan melihat trek pendakian melewati Arcopodo membuat gw berpikir, kekuatan apa yang mengantarkan gw bisa sampai puncak.  Jam 8:30 gw sampai di camp Kalimati di susul teman-teman yang lainnya.

2013-10-04 08.09.07 2013-10-04 08.12.53 2013-10-04 08.09.13

(trek pendakian yang terjal & berdebu dari Kalimati-Arcopdo sampai batas vegetasi)

Jam 12 siang kami turun ke Ranukumbolo. Tapi ketika hendak turun kami didatangi teman pendaki dari Malang yang semalam ikut mendaki bersama kami. Ternyata satu orang yang bareng mendaki bersama kami tersesat pada saat turun, dan itu dibenarkan oleh Rawing yang meneriaki seseorang di batas vegetasi karena orang tersebut salah mengikuti trek. Walaupun sudah diteriaki orang tersebut tidak menoleh dan terus menuruni trek yang salah.

IMG_20131012_214002 IMG_20131013_210524

(Perjalanan pulang  setelah turun dari Puncak Mahameru dari Kalimati menuju Ranukumbolo)

Mereka pun menitipkan sebuah pesan kepada kami apabila sampai di Pos Ranupane. Sampai di Ranukumbolo tanpa sengaja kami bertemu dengan teman-teman dari SAR yang ternyata sedang mengadakan acara bersama pihak Polres Lumajang. Pesan itu segera kami sampaikan pada mereka. Tim SAR sedikit gelisah karena di waktu yang bersamaan banyak media berada disana.

Tim SAR dari TNBTS bercerita kepada kami setelah film 5cm beredar banyak sekali “pendaki” dadakan seperti gw ini yang “nekad” mendaki Mahameru. Seperti yang gw bilang diawal sesungguhnya pihak TNBTS tidak mengizinkan para pendaki mendaki sampai Mahameru. Izin (asuransi) hanya dikeluarkan sampai camp Kalimati.

Karena sesungguhnya semua adegan yang ada di film 5cm sebuah acting yang diawasi oleh pihak berpengalaman dan lebih menonjolkan pada sisi entertain untuk menjaring penonton. Banyak para pendaki yang tidak paham betul keadaan situasi medan yang sebenarnya yang tidak diperlihatkan di dalam film tersebut. Kemudian pihak TNBTS menyebut mereka-mereka ini sebagai “korban 5cm” karena kebanyakan dari mereka mendaki sampai Ranukumbolo saja. Belum lagi mereka-mereka inilah yang kadang kurang concern akan kebersihan. Banyak dari mereka meninggalkan sampah bawaan perbekalan mereka diatas tanpa membawanya kembali ke bawah. Inilah yang disayangkan oleh pihak TNBTS.

2013-10-03 11.39.53

2013-10-05 13.31.22

(Wulan & Risya sang duta kebersihan yang setia dengan kresek yang di ikatkat dibelakang ransel berisi sampah sisa-sisa perbekalan)

Gw baru memahami ucapan dan maksud teman-teman dari Jogja saat di Kalimati “sebaiknya memang diseleksi dulu teman-teman yang akan mendaki ke gunung!”

Gw sendiri sebenarnya merasa tersindir akan hal tersebut tapi gw sendiri merasa telah menjalankan semua tata tertib yang diberlakukan TNBTS dan mempersiapkan diri untuk melakukan pendakian ini secara matang.🙂

Malam kedua di Ranukumbolo masih sama seperti malam pertama sebelumnya cuaca sangat dingin. Gw pun memberanikan diri keluar tenda untuk melihat suasana Ranukumbolo pada malam hari. Ngga sia-sia keluar dengan keadaan menggigil, sebanding dengan apa yang gw lihat. Rasanya ingin tidur diluar tenda sambil memandangi langit yang cerah ditaburi cahaya bintang. Didalam tenda kami kembali ngalor ngidul hingga larut malam, membicarakan semua apa momen yang terlewati saat pendakian tadi pagi dini hari. Semua tertawa apalagi saat mendengar celotehan gw yang berniat menghentikan pendakian ke puncak dan akan turun kembali ke tenda.

Mengingat besok adalah weekend Ranukumbolo semakin ramai akan kehadiran para pendaki, bahkan hingga jam 10 malam kami masih melihat lampu-lampu berdatangan dari balik bukit trek pendakian.

***

Sabtu, 5 Okt 2013

Untuk ke-dua kalinya dipagi yang berbeda gw merasakan jatuh cinta yang sama di tempat ini. Ranukumbolo menawarkan keindahannya dengan cara yang sama pagi itu. Hamparan bukit yang ditumbuhi pepohonan cemara, langit yang begitu cerah yang sesekali dilewati awan tipis. Suara kicauan burung, pohon cemara yang terkena angin dan suara percikan air danau yang mengenai pohon cemara yang telah tumbang disepanjang bibir danau. Pagi yang berkualitas! Rasanya ingin tinggal lebih lama lagi di Ranukumbolo!

2013-10-03 06.44.34 IMG_20131006_215042

(Suatu pagi di Ranukumbolo)

Tepat jam 12 siang kami berpisah meninggalkan Ranukumbolo, diatas bukit dibawah pohon cemara kami berlima melihat untuk yang terakhir kalinya keindahan Ranukumbolo dan segala kedamaian yang diberikan. Pertanyaan kapan gw bisa balik lagi kesini hinggap di dalam hati.

2013-10-05 11.09.23

(Ranukumbolo dari atas bukit saat perjalanan pulang menuju Ranupane)

Sepanjang perjalanan turun ke Ranupane gw bertemu banyak sekali pendaki. Sebagian dari mereka bertanya pada kami “mas, Ranukumbolo masih jauh?” atau “sampe puncak, mas?”.

Rawing sempat menjawab kepada salah satu pendaki dengan jawaban seperti ini “Ranukumbolonya ngga kemana-kemana kok”. Ini jawaban ter-ngehe yg gw dengar selama pendakian.

Sekitar jam 3:20 kami sampai di pos Ranupane tanpa banyak membuang waktu kami segera bersih-bersih badan dan memesan nasi rawon lengkap dengan sambal hijaunya. Mantap!

Rawing segera melapor ke petugas pos yang berjaga dan memberikan sampah bawaan yang telah kami gunakan selama pendakian.

Di warung kami serasa artis yang dicecar berbagai pertanyaan dari pendaki-pendaki “korban 5cm”. LOL. Beberapa dari mereka terlihat jelas muka yang begitu tegang mendengar cerita kami, apalagi ketika kami menceritakan ada teman pendaki dari Malang yang tersesat sampai kami turun saat itu belum juga ditemukan.

Bahkan teman dari Jakarta ada yang sempat hendak membeli sisa oksigen yang gw bawa. Dengan rasa kekerabatan sesama pendaki “korban 5cm” gw pun meng-gratiskan oksigen tersebut. Gw pun memberikan sedikit koyo yang tersisa pada mereka. Kami meninggalkan Ranupane mendekati jam 4:30.

Perjalanan samapai ke Pasar Tumpan kami tempuh dengan menggunakan Truk pembawa pasir. Gw, Hamim dan Risya ada di bak belakang sedangkan Wulan dan Rawing ada di bagian depan. Ternyata pulang menggunakan truk tak kalah menyenangkannya dengan “jeep”. Seperti kebiasan pada umumnya Puncak Mahameru diselimuti awan tipis sore itu, keadaan cuaca pun sangat cerah. Dari atas truk gw hanya berharap alam yang sebegitu indah ini bisa terjaga kelestariannya. Begitu berat rasanya meninggalkan TNBTS. Walau hati sudah ingin berada di rumah tapi badan ini rasanya ingin tetap terus menimkati keindahan panorama TNBTS. Meminjam judul lagu The Upstairs. Pendakian ini terekam indah tak pernah mati diingatan gw. Garansi seumur hidup. Cerita yang akan gw ceritakan ke anak cucu gw kelak.🙂

Fakta unik selama pendakian:

  1. Pendakian ini merupakan pendakian pertama gw. Sebelumnya gw belum pernah melakukan pendakian disertai camp.
  2. Total gw menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam pendakian dari Kalimati sampai dengan puncak Mahameru.
  3. Selama 4 hari pendakian sama sekali gw tidak buang air besar dan tidak mandi dan tidak mengganti celana dalam.
  4. Selama pendakian gw tidak memakai sunblock yang mengakibatkan kulit terbakar.2013-10-11 06.01.212013-10-11 16.25.05
  5. Saat pulang dari Malang ke Bandung ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan bis dan menghabiskan waktu kurang lebih 24 jam (berangkat dari Terminal Malang jam 7:30 pm – sampai kemali ke rumah kurang lebih jam 7:20 pm) dan yang hebatnya gw tidak mabok darat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s