Liburan Indie

Nah, seperti biasa. Bingung di opening. Mau mulai dari mana. Bangkek. :)

Sometimes, best moments happen when they are unplanned. Dengan persiapan serba mendadak gue segera mengontek salah satu sahabat sebut saja dia si Hiu, untuk meminjam carrier dan tenda sebagai persiapan pendakian ke Cikuray, Garut.

Sabtu itu gue bersama kedua teman Risya dan Asep tampak cukup sibuk mempersiapkan segala perlengkapan. Maklum ini adalah pertama kalinya bagi kami mempersiapkan segala sesuatunya dengan sendiri. Biasanya ketika akan melakukan pendakian kami hanya “join” dengan teman yang memang sudah expert. Ngga usah repot cari tenda, alat masak trangea, persediaan logistik, akomodasi, perizinan, dll. Istilah kerennya “tahu beres” hanya ikut sumbang menyumbang.

Minggu pagi sebelum berangkat gue masih sangsi antara akan memakai sneakers atau boots untuk pendakian. Setelah mendapat saran akhirnya gue memakai boots.

Dari Batujajar, Kab. Bandung Barat kami menggunakan bus. Madona. Ya, nama busnya adalah Madona tujuan terminal Leuwipanjang via Tol. Kami membayar Rp. 6.000,-/orang.

Sampe di terminal Leuwipanjang kami menggunakan mini bus (elf) tujuan Dayeuh Manggung. Ongkos Rp. 20.000,-orang.

Sialnya setelah sampe Garut tak jauh dari Tarogong, kami diturunkan ditengah jalan karena muatan kosong. Kami dialihkan ke salah satu angkutan umum. Setelah beberapa saat melihat suasana kota Garut dengan gadis-gadis ayunya yang berseliweran dimana-mana, gue rekomendasi-kan Garut buat jadi tempat hunian di masa depan. Menurut gue ini adalah sebuah pilihan alternative untuk mendapatkan taraf hidup layak saat ini ketika bagi sebagian orang yang sudah merasakan jenuh dengan hiruk pikuk kehidupan kota urban. :)

Sedikit advice aja buat kalian yang memang baru pertama kali akan mendaki ke tujuan yang memang belum pernah dikunjungi, pastikan bahwa angkutan umum yang membawa kalian benar-benar membawa ke tujuan yang tepat. Karena sering kali supir ataupun kernek meyakinkan kita dengan tujuan yang benar tapi ketika di tengah perjalanan diturunkan begitu saja dengan berbagai alasan. Buatlah second opinion sebelum benar-benar memilih angkutan umum. Tanyakan pada orang disekitar yang sekiranya dapat dipercaya. Tentu saja ini untuk meminimalisir kerugian waktu, biaya, dll.

Sampai di Dayeuh Manggung (Pangkalan Ojeg) kami bertiga nego harga untuk sampai ke Pemancar dengan menggunakan ojeg. Rata-rata mereka menawarkan dikisaran harga 30-40 ribu/orang. Jago-jagolah menawar sampai diharga paling murah.

Dari pangkalan ojeg sampai pemancar kita akan disuguhi pemandangan perkebunan teh. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke pemancar. Kenapa disebut pemancar karena memang banyak tower pemancar sinyal milik stasiun TV. Bagi pendaki yang memang membutuhkan air mineral botol ataupun persediaan makanan ringan, seperti mie instan, roti, untuk bekal selama pendakian di pemancar banyak tersedia warung yang menjual kebutuhan tersebut. Tenang bagi kalian yang ingin buang air kecil/besar ataupun mandi disini tersedia pula toilet umum. Bisa dibilang Pemancar ini seperti Ranupanenya di Semeru.

Sebelum mendaki kita akan di data oleh pihak petugas Gunung Cikuray. Sekedar info saja Gunung Cikuray ini belum menjadi Taman Nasional jadi masih dikelola oleh swadaya masyarakat setempat. Setelah di data kita akan diminta biaya administrasi (read: sedekah seridhonya). Sedikit saran kalo bisa disesuaikan dengan jumlah orang yang naik, ya, kalo naik 10 orang minimal kasih dua puluh ribu lah.

Seperti ritual-ritual pada umumnya kami bertiga berdoa meminta keselamatan selama pendakian dan saat turun nanti.

Kurang lebih 2 km pendakian akan masih berupa track perkebunan teh dan menemukan beberapa ilalang berwarna ungu (bila mendaki di musim hujan).

image

Saat itu kami bertiga berangkat mendaki tepat jam 3.30 wib. Dari awal, kemiringan pendakian sekitar 60-65 derajat dan ini yang membuat gw dan risya mendapat pukulan telak di awal-awal.

image

Continue reading

ADAM & KEIRA (Part 2)

Adam sengaja memasang alarm di arlojinya tepat jam 5.10 pagi. Adam sudah merancang ini semua sejak di Stasiun Bandung. Adam hanya ingin memastikan apakah Keira benar-benar seperti yang dikatakan Ibunya: “Keira itu cantiknya kelewatan lho Dam kalo lagi tidur”. Sungguh, Adam merasa geli apabila mengingat ucapan tersebut pada Sabtu sore di sela-sela jamuan makan di rumah Keira.

Namun, kini Adam percaya Tante Wati tidak berbohong. Anaknya memang benar-benar cantik. Pagi itu sinar mentari pagi menembus kulit wajahnya yang putih merona. Subhanallah. Adam berucap kagum. Sesaat kemudian dia membandingkan dengan kulitnya yang berwarna kuning langsat. “Jauh benar ya”. Ucapnya sedikit ngenes.

Adam sadar betul salah satu kekurangannya adalah mengingat. Tapi tidak untuk yang satu ini. Adam akan mengingatnya sebagai salah satu pagi terbaik yang pernah ia lewati. Sebelumnya hanya ada satu pagi yang begitu berkesan baginya. Yaitu ketika melihat sunrise saat summit attack ke Mahameru. Walaupun tidak melihat sunrise dari atas puncak Mahameru namun dia mengingatnya sebagai salah satu the best early morning ever dalam hidupnya.

Y O U
Continue reading

True Love

Pastinya pernah kan sekali waktu iseng liat phone book di smart phone atau sekedar ngecek followers di twitter ?

Biasanya sih dari skrol-skrol di phone book atau twitter menghasilkan sesuatu yang awesome. :)

Ngga ada salahnya juga ngecekin kaya gitu. Ada saat dimana muka lo akan menampilkan ekspresi yang unik ketika melihat deretan nama-nama yang ada di phone book atau di followers. Entah itu tersenyum, atau drastis berubah ketus. Dan gue yakin dari deretan nama-nama tersebut mempunyai ceritanya sendiri-sendiri.

Dari sekian deretan nama yang ada di phone book, ada banyak yang menarik perhatian sebenarnya tapi kayanya ngga ngebahas akan lebih baik. :)

Nah, kalo dari followers gue sangat tertarik sama akun yang satu ini.

image

(Lihat Followers paling atas)

Dini ini teman sekelas gue di SMA tepatnya saat kelas 12. Tanpa pikir panjang gue pun kepo-in twitter si Dini.

Melihat profil twitternya kalimat pertama yang gue ucap adalah “Si Kampret, Gokil” lalu tertawa puas. Dini dan Diaz ini satu alasan kenapa gue kangen masa-masa SMA. Sebenernya Dini & Diaz punya saingan yang ngga kalah gokil di zamannya. Mereka adalah Nicky dan Fauzyah.
Nicky & Dini satu kelas sama gue di IPS 3. Sedangkan pasangan mereka berada di kelas yang sama pula di IPA 4.

Sayangnya tak lama setelah lulus SMA Nicky & Fauziah tidak bisa mempertahankan julukan “couple of the year” yang gue kasih karena cinta Nicky di khianati Fauziah. :(

image

image

(Tampilan Profil Twitter Dini & Diaz)

Buat gue pribadi & salah satu teman (Irhan) melihat kisah cinta Dini-Diaz & Nicky-Fauziah adalah sebuah fenomena yang langka saat SMA dulu (circa 2004-2007).
Continue reading

D.I.Y.

Bahagia itu sederhana, se-sederhana gue hari ini belajar menanam pohon. Ketimbang lo pada mengumpat sumpah serapah, saling menyalahkan atas bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia di awal tahun 2014 ini, mending turun tangan langsung!

IF THERE A WILL, THERE A WAY.

Kenapa gue bilang begitu. Modal gue belajar nanem pohon yang gue lakukan ini cuma modal kemauan.

Bibit pohon dari mana? Continue reading

Thankgiving

Jaman SMA pengen punya sepatu Nike harus ngumpulin uang jajan dulu beberapa bulan. Kalo ngga gitu paling nyoceng SPP atau ngga uniko (usaha nipu kolot) *Jangan dikutin ya adek-adek!

Tapi kalo dibandingin sama sekarang sih jaman gw SMP, SMA hobi pake sneaker blm se’happening kaya sekarang. Paling kece pake sneaker jaman SMP paling Converse Chuck Taylor,
Continue reading

I’ve Waited 2 Years For This Moment

Some my friends asked me. Why are you so long for this thesis?

And i answered. You’ll never understand until it happen to you!

Kalo dibilang lama semua orang akan bilang hal yang serupa. Tapi ini bukan tanpa alasan. Silahkan buka postingan gw sebelumnya. Seberapa besar pengorbanan gw untuk mengejar gelar S.AP (Sarjana Administrasi Publik) di STIA LAN RI Bandung.

IMG_20120512_123903

(Viky atau sering disapa ” si kecil” terlelap disela-sela menunggu kuliah pada hari sabtu) Continue reading

118

Jumat Keramat. Tanggal 29 November 2013 adalah hari terakhir dimana gw bekerja di Bank Rakyat Indonesia (Kanca Bandung Naripan). Masih teringat jelas suasana sore itu setelah jam operasional selesai. Semua yang telah terlewati dari awal, suka maupun duka. Sesekali tersenyum sambil memutar-mutar kursi
Continue reading